Rabu, 20 September 2017

GAGAL FAHAM: AJAK NOBAR, PANGLIMA DIKEROYOK MASSA

GAGAL FAHAM......AJAK NOBAR G30S/PKI, PANGLIMA DIKEROYOK PDIP, DEMOKRAT DAN WATIMPRES, NGERI....INTIMIDASI BERJAMAAH? 

Acara debat ILC dengan tema, “PKI, Hantu atau Nyata” tanggal 19 september kemarin sekali lagi bikin geger warga netizen, karena paska acara tersebut, setelah para pakar diacara tersebut mengajak semua pihak untuk berdamai, tiba-tiba pihak istana Watimpres menyerang sikap Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang mengajak masyarakat nonton bareng film G 30S/PKI agar segera menganulir ajakannya, atau Seruan Politisi PDIP yang menuding Panglima telah memanfaatkan posisinya untuk berpolitik. Atau Politisi Demokrat yang mempertanyakan sikap Panglima mengajak orang menonton film gestapu.

PDIP memandang Gatot sedang bermain politik dengan mengeluarkan instruksi itu. Apakah sekeji itu maksud seorang panglima TNI yang pernah menjadi bagian sejarah memanfaatkan moment ini untuk berpolitik, apakah pantas politisi pendukung pemerintah PDIP mengeluarkan pernyataan seperti itu? Dimana hati nuraninya terhadap rakyat, bukannya melanjutkan rencana rekonsiliasi, pakar politisi ini malah balik menuding Panglima sebagai biang kerok kekacauan yang terjadi belakangan ini. Berikut Pernyataan Effendi Simbolon:

"Sebagai orang politik, (saya kira) adalah ya (muatan politis). Kalau mau nonton, ya nonton aja. Prajurit siap ya, kalau sudah dibuat instruksi ya," ujar anggota Komisi I F-PDIP Effendi Simbolon di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/9/2017). 

Berikut pernyataan politisi Demokrat Rachland Nashidik menanggapi situasi yang belakangan terjadi. Menurutnya, instruksi itu sama saja menguatkan sikap ekstrem terhadap sikap ekstrem lain. Ujungnya, hanya akan menambah konflik di negeri ini. "Apa sebenarnya yang dimaui Panglima TNI? Menguatkan sikap ekstrem terhadap sikap ekstrem lain? Belum cukupkah bangsa kita dirobek konflik?" tanyanya 

PENGISI ACARA BAGUS DAN BERBOBOT

Padahal dalam acara tersebut sudah sangat jelas dipaparkan oleh Prof. Salim Said bahwa semua fakta yang diungkapkan sang Sutradara Arifin C. Noer semuanya adalah fakta, karena Salim Said mengungkapkan seorang Arifin C. Noer tidak mungkin mau ditekan dalam berkarya dan film G30S/PKI bukanlah film pesanan Orde Baru sebagaimana yang diutarakan Sukmawati Soekarnoputri dalam paparannya. Soekmawati bicara bahwa Film yang dibuat Arifin C.Noer adalah karya yang amburadul, penuh kebohongan dan rekayasa. Padahal Prof. Salim Said sudah menunjukkan fakta bahwa Film itu mengandung isi kebenaran dan tidak mungkin seorang Arifin C. Noer berbohong karena ia adalah orang yang punya integritas, ia adalah orang yang teliti dan cermat. 

Jadi dengan demikian, ajakan Panglima nonton bareng Film Gestapu sudah benar, karena isinya mengandung kebenaran dan bukan film abal-abal sebagaimana yang dituduhkan Soekmawati Soekarnoputri. Atau bisa juga kita katakan bahwa semua yang disampaikan Soekmawati adalah kebohongan, justru ia yang mengarang cerita dan memutarbalikkan fakta dalam rangka melindungi koleganya yang sedang tersudut. Bagaimanapun Soekmawati adalah anak dari Presiden Soekarno, yang juga merupakan tokoh penting bagi partai pendukung pemerintah saat ini PDIP.

Upaya menyerang Panglima TNI di berbagai media nasional yang dilakukan Politisi PDIP dan pegawai Watimpres saat ini sangat amat disayangkan, bukannya berusaha menenangkan massa dengan upaya rekonsiliasi yang sudah disarankan oleh Lemhanas dan Prof Salim Said, masyarakat malah diajak lagi berargumentasi, bahwa apa yang dikatakan Soekmawati adalah fakta kebenaran, padahal, peristiwa sejarah saat ini sangat sulit diungkap kebenarannya karena itu menyangkut kepentingan banyak pihak dan sulitnya pengungkapan akibat para pelakunya sudah wafat. Tuduhan Politisi ini sangat tendensius dan justru memposisikan Panglima sebagai biang kerok kegaduhan yang terjadi belakangan ini, seakan-akan Panglima sedang memainkan peran ganda didalamnya.

Tuduhan ini bukannya membuat masyarakat senang, karena ini makin mengukuhkan bahwa nampaknya PKI yang sebenarnya sedang menujukkan batang hidungnya. Sebagaimana cara kerja PKI pada umumnya, mereka sangat rajin membuat tuduhan dan fitnah untuk menyudutkan pihak lawan. Dengan cara itu, mereka bisa menggiring opini public bahwa mereka tidak bersalah, yang salah si anu, dalam hal ini cara kerja PKI disini justru sangat kentara sekali.

 Jika anda ingin lebih jelas lagi, tonton lagi video ILC yang menampilkan paparan Soekmawati dan Prof. Salim Said, perhatikan gesture tubuh Soekmawati yang selalu menunjukkan gerakan tangan kiri menepis selendangnya (gerak tangan kiri artinya menolak) setiap kali ingin membuat statement rahasia. Atau beberapa kali ia terbatuk dan kesulitan berbicara karena ada yang mengganjal di mulutnya. Ia Nampak sedikit tertekan dan ketakutan salah bicara dan akhirnya mengeluarkan statement berbeda. Itu adalah salah satu ciri dan gaya orang sedang berbohong dan sedang memutar balikkan fakta. Mulut bisa bicara tapi bahasa tubuh tidak bisa bohong. Sementara Prof. Salim said terlihat tenang dan terarah, gesture tubuhnya pun tidak menujukkan perihal mencurigakan. Atas pernyataan Soekmawati ini, nampaknya PDIP bagaikan mendapat angin surga dan mereka merasa berada di atas awan karena mendapat pembelaan Sang anak Proklamator, karena berhasil bicara bahwa dalang semua ini adalah Letjen Soeharto. Soeharto yang harusnya disalahkan bukan PKI, kurang lebih seperti itu.

Dalam hal ini, artinya PDIP masih memendam amarah sehingga ia merasa perlu menyerang Panglima TNI dan menuduh Panglima sedang berpolitik. Itu adalah tuduhan yang sangat keji, dan tidak berdasar, bagaimana bisa seorang pimpinan pasukan bersenjata yang menjaga negeri ini dengan sepenuh jiwa difitnah seperti itu, bukankah itu sesuatu yang menunjukkan bahwa jangan-jangan PKI memang ada di dalam tubuh PDIP. Jangan-jangan PDIP memang sedang menyiapk sesuatu untuk ditunjukkan pada bangsa ini.

 Terlepas dengan apa yang dituduhkan PDIP terhadap rezim Orde baru, mana pihak yang paling benar. Jika memang benar pengkhianatan itu dilakukan oleh rezim Soeharto, maka seharusnya kemarahan itu ditujukan kepada rejim berkuasa orde baru pada saat itu, bukan dilampiaskan pada masyarakat saat ini. Rakyat saat ini tidak tahu apa-apa, dan mereka juga tidak mau terlibat dalam genosida tersebut, rakyat sudah legowo dan menganggap itu adalah bagian masa lalu bangsa ini. Rakyat juga tidak mau menengok ke belakang, sesuatu yang tidak pernah Nampak nyata. Jika orde baru yang berkhianat, toh mereka juga sudah mendapat ganjarannya, dibalas dikudeta di tahun 1998. Itukan sudah setimpal dengan perbuatannya, lalu kenapa kita harus balik lagi menengok ke tahun 1965, itu kan namanya pembodohan. Rakyat sudah move on….bro, ente ke mana aja.

Masih perlukah kita berkelahi dan terkotak-kotak lagi, karena tuduhan yang menyerang Panglima ini akan membuat masyarakat jadi terpecah belah. Rakyat menganggap ajakan Panglima ini sesuatu yang wajar dilakukan pimpinan militer karena ia khawatir dengan keselamatan bangsa ini, tidak berlebihan dan bisa dimaklumi. Tapi kenapa tanggapan politisi seperti ini sangat memalukan.

Panglima hanya dalam kapasitanya mencegah dan antisipasi. Apa itu salah? Lalu masih perlukah kita menyaksikan lagi kekejian itu terulang di depan mata, lalu sampai kapan kita akan berdamai dengan diri kita sendiri. Sementara hal-hal buta dan seharusnya sudah dilupakan harus korek-korek lagi. Dalam hal ini kami menilai justru memang dalang dari semua kegaduhan ini adalah PDIP, mereka yang memang ingin mengangkat kembali tragedi ini ke permukaan, sehingga mereka mendapat pengakuan, pembelaan dan pembenaran bahwa pihak mereka tidak bersalah, pihak mereka harus dipulihkan nama baiknya. Rakyat harus tahu sisi kebenaran yang sesungguhnya dari sisi berbeda dan sebagainya. Apa itu ada pengaruhnya buat rakyat, atau jangan-jangan sebenarnya mereka sendiri yang sedang mengantisipasi isu ini menyerang mereka di pilkada serentak 2018 nanti.

Lelah kita ini di giring kepada opini salig serang terus-menerus seperti ini. Jika memang ingin berdamai, maka mari sama-sama kita lupakan dan mari kita mulai lagi dengan lembaran baru. Sudahi semua polemic sebagaimana saran yang disampaikan Lemhanas pada saat itu. Karena jika tidak, kita semua akan berjalan di tempat, atau kita akan berjalan mundur ke belakang.

Tapi Politisi ini nampaknya belum puas dengan hasil diskusi ILC saat itu, makanya masih saja mengajak rakyat berpolemik dan menganggap pihaknya yang benar. Dia masih saja ingin menggoreng isu ini menjadi isu nasional. Ya seperti inilah jadinya, kita akan kembali lagi berjalan mundur ke belakang. Karena anjuran Panglima itu pasti ada maksudnya, tapi PDIP merasa terganggu makanya mereka membuat pernyataan seperti itu. Ya tapi itulah mental tempe politisi kita, beraninya berlindung dibalik penguasa. Tidak berani menerima kenyataan dan berlapang dada, sakit hati itu akan mereka bawa sampai mati dan sampai anak cucu mereka nanti. Maka dari itu, rakyat jangan terpengaruh, jika anda pandai dan cerdas, anda akan melihat kebenaran. Tapi jika anda tidak punya pandangan, sebaiknya diam. Inilah contoh rezim yang....gagal faham.

Senin, 18 September 2017

REKAMAN SUARA ASLI JENDERAL AH. NASUTION PASKA PEMBANTAIAN G.30.S.PKI

Jenderal AH. Nasution adalah salah satu korban selamat dari tragedi pembantaian 30 septemberr 1965. Rekaman ini dibuat saat melepas korban G30S/PKI pada tanggal 5 Oktober. Dalam rekaman tersebut terungkap bahwa sang jenderal berulang kali berkata bahwa mereka telah difitnah , para jenderal ini sudah berusaha sekuat tenaga mempertahankan NKRI dari berbagai fitnah yang menyerang mereka, ada segelintir orang yang ingin mengubah ideologi bangsa ini tetapi mereka tetap teguh pada pendirian dan sepenuhnya beserah diri kepada Allah swt, tapi akhirnya menjadi korban keganasan pembantaian PKI di tengah malam gelap gulita. Fitnah-fitnah yang ditujukan kepada para jenderal ini tidak mampu menggoyahkan iman mereka, sehingga mereka dianggap sebagai penghianat lalu dimusnahkan dengan cara keji. Inilah musuh Indonesia paling besar dan paling berbahaya selama ini, kini mereka muncul lagi dengan semangat 45 ingin menunjukkan eksistensi diri. Berikut ini isi
 pidato sang Jenderal...

Minggu, 17 September 2017

NOBAR, FILM G 30 S PKI, HUKUMNYA WAJIB BAGI MUSLIM

Udah gak ada waktu lagi, kalo memang merasa diri kita ingin selamat di dunia dan akhirat, maka luangkan waktu untuk menyaksikan film sejarah bangsa ini. Jangan sukanya nonton film holywood tapi kalian buta sejarah, jangan salah pilih link, karena ada banyak versi beda yang sengaja dibuat untuk merubah fakta sejarah, apa yang dilakukannya di masa lalu, dan apa yang sedang mereka rencanakan saat ini.

Jumat, 15 September 2017

PKI INGIN EKSIS LAGI, NO WAY MAS BRO....


Merebaknya kembali isu PKI dimasyarakat membuat resah berbagai pihak, banyak yang tidak percaya PKI sudah kembali bangkit melalui PDIP. Berkali-kali sang ketua Umum PDIP Megawati membantah isu tersebut, meyakinkan public bahwa PDIP bukan PKI, PDIP tidak ada sangkut paut dengan PKI karena PDIP berlandaskan Pancasila. Coba anda perhatikan kalimat Megawati dengan jelas, secara de akto PDIP memang bukan organisasi PKI karena PKI sudah tamat. Tapi sejarah dimasa lalu mencatat bahwa di awal berdirinya PDIP, terdiri dari lima partai gabungan dan salah satunya adalah PKI. Semua orang faham itu, dan setelah puluhan tahun berlalu atau sampai kapanpun sejarah tidak akan pernah lupa menulis kebenaran itu. Bahwa PKI pernah menjadi bagian penting PDIP dimasa lalu, sampai kapanpun keduanya memang tidak akan bisa dipisahkan.

Walaupun kini partai terlarang itu sudah tidak ada, tapi bukan berarti PDIP tidak punya hubungan emosional dengan PKI. Bukan berarti PDIP akan membiarkan PKI musnah dan hilang ditelan bumi, PDIP yang sedang berkuasa kini hanya sedang memberikan keleluasaan eks-PKI yang ada didalam tubuhnya untuk berkembang dan melebarkan sayapnya. PDIP memang bukan PKI, tetapi PDIP memberi peluang, menjadi pelindung, mediator, dan fasilitator eks-PKI untuk kembali bangkit. Untuk kembali tampil ke public untuk menunjukkan jati diri, karena mereka tetap ada dibumi pertiwi ini, anak cucu, kerabat dan keluarga eks PKI itu masih hidup di negeri ini dan mereka juga pernah menjadi bagian sejarah bangsa ini.

Mereka ingin kembali bangkit karena mereka sakit hati dan menahan dendam kesumat, karena para leluhur mereka sudah dibantai dan dihabisi oleh rezim Orde Baru. Jadi jelas ya, PDIP itu memang bukan PKI, PDIP hanya membantu PKI kembali eksis di dunia nyata, tidak lagi menjadi hantu yang berkeliaran.

Lalu kenapa PDIP bersimpati pada PKI? 

Sepanjang sejarah, PDIP selalu jadi kambing hitam politik oleh penguasa terutama Orde Baru, selalu menjadi korban kebengisan penguasa dan selalu dihancurkan gerakannya selalu dipersempit dan dibatasi ruang geraknya. Atas dasar kebencian dan balas dendam masa lalu ini kedua partai ini (PKI dan PDIP) memiliki ikatan emosional yang kuat untuk sama-sama menghapus sejarah masa lalu yang kelam. PDIP memandang PKI yang juga pernah ikut berjuang, memiliki kesamaan visi dan kesamaan nasib di dunia perpolitikan, selalu menjadi korban keberingasan penguasa. Keduaya memiliki hubungan dekat yang tidak bisa dimaknai dengan bahasa sederhana, sangat rumit dan luas. Disamping PDIP juga memanfaatkan pengaruh keberadaan PKI di negeri ini karena hanya PKI yang akan memapu menja penghubung dengan PKC (Partai Komunis China), dan hanya PKI yang bisa dibawa ke Partai terbesar China untuk mendapat dukungan dan pengaruh pemimpin China. Keduanya bekerja saling melengkapi satu sama lain, hubungan yang saling menguntungkan sudah terjalin sejak lama.

Mereka berambisi ingin menguasai dan membalaskan dendam masa lalu kepada para generasi penerus yang ada saat ini. Mereka ingin melampiaskan kemarahan dan kebencian yang selama ini terpendam, sehingga mereka bisa menampakkan diri mereka sebagai organisasi legal dinegeri ini, dan itu hanya akan terwujud atas dukungan dan fasilitasi PDIP yang sedang berkuasa ini dan adanya kerja sama politik partai komunis China dan Indonesia. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu hal ini sudah dibuktikan dengan adanya kunjungan balasan Partai Komunis China (PKC) ke Istana merdeka menemui Joko Widodo, dalam rangka menjalin kerjasama berbagai bidang. Atau beberapa tahun silam beberapa kader PDIP di kirim ke China untuk mengikuti pelatihan kaderisasi Partai Komunis di China. Bukankah ini pemandangan yang mencurigakan sekaligus mengerikan?

Lalu motif apa yang paling mendasari Megawati mau memfasilitasi pergerakan PKI? 

Anda masih ingat pada masa megawati menjadi presiden, menggantikan Abdurahman Wahid alias Gusdur dan hanya menjabat selama 2 tahun, melanjutkan sisa jabatan Gusdur. Puncak kebencian Megawati pada negeri ini adalah ketika ia berseteru dengan SOesilo Bambang Yudhoyon0 (SBY) dan ia merasa dipermalukan. Inilah puncak kemarahan Megawati yang sampai kapanpun tidak akan pernah ia terima. Dan atas alasan inilah ia bertekad akan membalas sakit hatinya kepada penguasa yang saat ini sudah berada di posisinya, pihak yang selalu dijadikan bahan tertawaan diparlemen. Jadi jangan bilang PDIP itu partai Komunis, PDIP bukan partai komunis tetapi PDIP memiliki kesamaan nasib dengan partai kamunis, memiliki kesamaan visi, PDIP hanya memfasilitasi, menjembatani, makanya mereka sedang bekerja sama bahu-membahu menghimpun kekuatan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang sudah menghancurkan kehidupan mereka di masa lalu.

Mereka akan berusaha sekuat tenaga menghancurkan orang-orang yang pernah membuat mereka menderita . Itulah motivasi besar mereka. Dan dibawah kendali Jokowi ini terbuka lebar berbagai kesempatan melampiaskan berbagai kemarahan dan dendam lama, untuk membuat orang-orang dimasa lalu menyebah-nyembah memohon ampun dan memohon dikasihani, sebagaimana yang pernah mereka rasakan di masa lalu.

Jangan asal bicara, Apa buktinya keduanya memiliki kedekatan emosional? 


Baru-baru ini beredar video pertemuan eks PKI dengan aggota DPR di salah satu rumah makan, salah satu penggagasnya Rieke Dyah Pitaloka, dalam acara tersebut dituliskan acara itu bertajuk “Temu Kangen”. Apa definisi makna temu kangen dalam pertemuan itu menurut anda? Itu artinya dimasa lalu keduanya pernah bersahabat/berkawan dekat, lalu karena kesibukan keduanya, mereka lama tidak bertemu dan merasa rindu lalu mereka mengadakan pertemuan untuk melepaskan kangen/rindu. Bukankah itu bukti bahwa keduanya ada hubungan yang terjalin baik dan ingin selalu merasa dekat dan diterima. Berikut ini cuplikan videonya…


Lalu kenapa PKI dan PDIP baru menampakkan diri sekarang? Setelah Sekian lama? 


Karena sebagaimana prinsip orang-orang bengis seperti ini mereka adalah orang yang gigih pada tujuan, mau bersabar dalam penderitaan menanti datangnya kesempatan emas dan tidak akan mudah berputus asa. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik mereka untuk dimanfaatkan melancarkan berbagai serangan dan manufer, bukan sekedar untuk membalaskan dendam, tetapi juga merampas hak hidup rakyat banyak dan merampok semua sumber daya yang ada untuk dilarikan ke lokasi lain untuk dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok mereka. Bukti nyata, sampai dengan saat ini, laporan LHKPN mengenai jumlah kekayaan pribadi Presiden Joko WIdodo sudah mencapai 340 Milliar rupiah, padahal sebelumnya baru berkisar 40 milliar rupiah.

Lalu apa kaitannya Jokowi dengan Semua ini?
 

Ya…jokowi adalah salah satu pioneer yang sudah disiapkan sejak lama, termasuk Ahok sebagai serepnya, ia adalah boneka lucu yang bisa dipasang untuk mengelabui semua orang, untuk mengalihkan perhatian public, untuk mengendalikan kerja parlemen dan untuk memuluskan berbagai rencana besar mereka. Sampai dengan hari ini, belum ada yang bisa memastikan garis keturunan Jokowi, masa lalu Jokowi sangat bersifat rahasia dan disinyalir memiliki hubungan emosional dengan masa lalu partai komunis. Ia pun sadar betul bahwa memang hanya dirinya yang berperilaku lugu dan manis ini yang akan mampu meyakinkan public bahwa ditangannya bangsa ini akan maju dan sejahtera, bangsa ini bisa berkembang, padahal sebenarnya itu hanya taktik menarik simpati publik. Bahwa hanya dirinya yang akan mampu menutupi berbagai kekurangan dan mengatasi berbagai isu negative yang akan menyerang siapapun yang ada dibelakangnya. Tapi dalam struktur partai, status Jokowi hanya lah petugas partai. Itulah prinsip kerja sistem komunis, para pengikut loyalnya harus mau berkorban dan melakukan apapun yang diperintahkan pemimpin tertinggi, tanpa kecuali.

Lalu kenapa pemerintah Jokowi menjalin hubungan baik dengan China dan Tiongkok? 


Ya kembali lagi ke masa lalu, bahwa hanya dengan Negara sebesar China yang akan bisa melindunginya dari kemungkinan terburuk Jokowi dilengserkan dari kursi singgasana kepresidenan, Jokowi membutuhkan dukungan dana besar untuk antisipasi. Alasan kedua, untuk menguatkan lagi hubungan emosional para penganut paham komunis yang bersembunyi di balik jas merah partai, agar bisa semakin memantapkan tujuan mereka, membangun rasa percaya diri dan menggerakkan kembali perjuangan mereka mendirikan organisasi legal dinegeri ini. Alasan ketiga, dengan bantuan China, seluruh kekayaan alam negeri ini bisa dikuras habis dan dilarikan ke luar negeri, untuk membuat Negara ini miskin dan melarat sehingga anak cucu generasi ini akan ikut merasakan kelaparan sebagaimana yang dirasakan anak cucu eks PKI beberapa puluh tahun belakangan ini. Jadi, anda sebaiknya jangan merasa bangga dipimpin dengan Jokowi, karena sebenarnya apa yang dilakukannya saat ini, semata-mata karena mereka ingin membuat negeri ini melarat dan mati kelaparan. Ya tapi Apa buktinya?

Anda tahu kenapa Jokowi membangun banyak infrastruktur; Jalan, kereta api, pelabuhan, bandara dan ia getol sekali mengawasi pembangunannya?

Ya itu….untuk memudahkan terjadinya pergerakan manusia dan sumber daya alam, dibawa kabur keluar dari negeri ini. DIbangunnya ribuan pelabuhan/dermaga diberbagai pulau, itu adalah agar berbagai hasil hutan, kebun, binatang langka bisa segera dibawa keluar negeri, dijual dengan harga tinggi atau dijual di pasar gelap. Dibangunnya bandara internasional diberbagai daerah agar kelak warga Negara China bisa datang ke manapun mereka mau dan menetap dimanapun mereka inginkan, mereka bisa keluar masuk Negara ini dengan mudah dan cepat melarikan diri jika terjadi kerusuhan dsb. Dibangunnya tol laut, untuk memudahkan pendistribusian barang-barang yang masuk dari China, ke berbagai daerah dengan cepat dan murah. Jadi semua insfrastruktur itu dibangun hanyalah untuk memudahkan pergerakan china dinegeri ini merampok dan memberdayakan apa pun yang ada disini. Dibangunnya jalan tol di kota-kota besar untuk menjadi sumber pendapatan tambahan dari penjualan tiket kereta dan tol dipemukiman padat penduduk akan menghasilkan keuntungan berlipat.

China punya kepentingan kepada Indonesia bukan karena Indonesia punya peluang pangsa pasar yang besar, tetapi karena Indonesia masih punya kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan untuk memberi makan warga china yang saat ini jumlahnya sudah mencapai satu miliar jiwa. China yang berkolaborasi dengan Amerika juga punya kepentingan strategis disini, dengan dibukanya berbagai jalur aksesibilitas, maka akan memudahkan para suplayer atau pemasok narkoba masuk dan mengirim barang dalam jumlah besar dan membuat bangsa ini terpapar narkoba secara masif. Tragedi penyebaran narkoba jenis mematikan Flaka sudah terjadi belakangan ini, 40 orang menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit sudah dalam keadaan koma dan meninggal dunia.

Itulah sebabnya mereka membiarkan komunis menguasai bangsa ini, karena alas an dendam masa lalu yang belum selesai dan masih terus diusahakan berbagai kemungkinan bangsa ini hancur dalam waktu cepat. Bangsa ini harus berakhir tragis dan menyedihkan, rencananya Indonesia harus sudah musnah paling cepat 2025 bersama Pakistan dan Bangladesh. Atau jika tidak hancur, setidaknya Indonesia sudah berubah ideologi menjadi negara komunis dibawah kendali China, sebagaimana yang terjadi dengan Singapura. Dahulu, orang melayu menguasai Singapura, tapi sekarang orang melayu berada diketiak non pribumi. Dan lihat nasib pribumi disana, diinjak-injak oleh non pribumi.

Dalam kaitannya dengan yang terjadi saat ini, kenapa sengaja KPK di lemahkan? 

Karena hingga saat ini, bagaimanapun buruknya kinerja KPK di mata pansus DPR, dinilai masih banyak kekurangan, tapi KPK masih menjadi lembaga dengan tingkat kepercayaan tertinggi di masyarakat. Dalam hal ini, posisi KPK bisa sangat menghambat kerja penguasa, karena sudah pasti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penguasaan sumber daya akan dijegal oleh KPK jika mereka masih aktif. China sangat menkhawatirkan hal ini, lembaga anti rasuah ini harus lumpuh jika ingin China masuk secara keseluruhan. China ingin memastikan tidak akan ada yang mengganggu investasinya.  Jika tidak diantisipasi, KPK akan menjadi batu sandungan besar bagi pemerintahan Jokowi kelak, apalagi memasuki tahun politik, angin kencang tidak akan mampu mereka lawan mana kala lembaga terpercaya di masyarakat ini mampu menunjukkan berbagai aliran dana dalam jumlah besar dipakai untuk menyuap banyak tokoh atau dana asing masuk ke negeri ini untuk mendanai kampanye sang petahana. Makanya KPK harus segera dimandulkan dan diawasi pergerakannya, sehingga mereka lebih leluasa bekerja. Makanya dibentuklan pansus yang sengaja mencari-cari kelemahan lembaga ini, untuk menjatuhkan kredibilitas KPK di mata masyarakat.

Nah, Sekarang anda mengerti ya kenapa Jokowi berhutang jumlah besar dalam kurun waktu2 tahun jabatannya? Kenapa Jokowi ngotot mau menggunakan dana Haji untuk membiayai pembangunan Infrastruktur yang sedang dikerjakannya?

Ya… karena mereka gak punya modal untuk membiayai semua proyek itu, mereka membutuhkan dana segar secara cepat dan mudah, tanpa syarat macem-macem, untuk mengejar target pembangunan yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini china ingin memastikan keseriusan pemerintah Jokowi dalam menunjukkan bukti bahwa pemerintah bisa mengendalikan dana umat yang dihimpun dari masyarakat benar-benar bisa dikendalikan oleh pemerintah. Sayangnya, MUI pun memberi restu rencana tersebut dan memberikan ijin penggunaan dana haji. Padahal apa untungnya bagi umat jika dana itu dibiarkan masuk kas Negara dan dikelola untuk pembangunan, ketika pembangunan jalan selesai, ramai-ramai imigran China merangsek masuk dan merampas semua hak umat dengan semena-mena. Jalan itu dipakai untuk melancarkan semua rencana mereka menggarong bangsa ini hingga ke akar-akarnya. Orang islam cuma kebagian miskin dan melaratnya, tidak akan bisa ikut menikmati infrstruktur jalan dan jembatan, karena semua itu fasilitas berbayar.

Lalu, kemana itu semua jenderal dan ulama besar yang mereka tahu semua ini sedang menggerogoti bangsa ini? Isu PKI sudah meresahkan seperti ini, tetapi sama sekali tidak suaranya, padahal kelak jika PKI sampai hidup kembali, merekalah yang pertama kali digorok leher dan dipancung kepalanya. Kemana mereka semua?

 Mereka sebagian sedang tertidur pulas, dinina bobokan oleh nyanyian nyiur kelapa nan merdu. Aliran uang sudah masuk ke rekening, dan mereka sudah dijanjikan akan pergi ke bulan dalam waktu dekat. Dengan pesawat canggih dan super mewah. Semua suara miring itu tidak perlu diteriakkan, karena sebagian para ulama sudah di makjulkan dan sebagian jenderal sudah di cuci otak untuk melayani penguasa. Mereka semua sama sekali tidak akan percaya PKI bangkit lagi. Sampai dengan belati menempel di leher mereka.

Lalu kenapa aparat penegak hukum, terutama Polri menjadi tidak punya daya dan kekuatan? Tidak punya gigi alias seperti macan ompong. Bahkan Kapolri Tito Karnavian baru-baru ini menyatakan akan mengajukan pensiun dini. 

Karena Kapolri benar-benar berada dibawah tekanan penguasa, kapolri tidak berdaya ditugaskan untuk mengawasi pergerakan orang islam di seluruh penjuru wilayah. Kapolri diminta untuk mengawasi berbagai ormas islam yang dikhawatirkan akan menggangu aktivitas partai atau ormas akan melakukan kudeta politik atau yang biasa mereka sebut makar. Makanya pemerintah menerbitkan perpu ormas, untuk mengawasi berbagai pergerakan massa islam. Pemerintah Jokowi mengendalikan penuh peran polisi, untuk menjadi mata-mata mereka dilapangan, mengantisipasi masyarakat berserikat dan berkumpul. Ya itu makanya banyak ulama, penceramah ditangkap karena ceramahkan dianggap akan melakukan makar, mengajak orang melakukan kudeta. Menyinggung sedikit tentang PKI langsung ditangkap, langsung di proses hukum. Ya seperti itu peran polri sekarang, bukan lagi menjadi pengayom masyarakat, tetapi menjadi pasukan pemburu hantu, mengintai orang-orang berkumpul di media sosial untuk melihat pergerakan mereka. Dan baru-baru ini terkuak pertemuan rahasia antara Kapolri, Kepala Bin, Gubernur Papua dan SUmatera selatan di kediaman Kepala Bin Budi Gunawan, mereka berencana melakukan pengamanan pilpres Jokowi 2019. Itu maksudnya apa?

Lalu anda tahu apa alasannya Jokowi juga ngotot pengin Ibu kota Negara dipindahkan keluar Pulau Jawa? 

Karena Jakarta ini sudah terlalu padat penduduk dan sebagian lahan Jakarta sudah dikuasai Taipan China, James Riady yang menjadi Bos Lippo, ia sudah mengantongi ijin pembangunan kota megapolitan di sekitaran Jakarta, yaitu Cikarang. Yang tadinya rencana itu ingin di wujudkan di wilayah reklamasi pantai utara, tetapi karena ada banyak masalah ijin dan Ahok juga sudah tidak menjabat, rencana itu dialihkan ke wilayah Bekasi Timur, Lippo Cikarang dengan luas lahan 500 hektar dan nilai investasi 500 triliun. Meikarta kelak akan menggantikan fungsi ibukota Negara, atau dengan kata lain jika ibu kota Negara sudah tidak ada di Jakarta lagi, sementara kota megah yang ada di Jakarta ada Meikarta, perbendaharaan katanya yang mirip ini lama kelamaan akan menjadi hal biasa untuk menganggap Meikarta adalah ibu kota Negara sebelumnya Jakarta. Atau dengan kata lain, Meikarta kelak akan menggantikan fungsi kota Jakarta. Dan tanpa sadar nanti kita akan melihat bendera yang banyak dikibarkan di wilayah Meikarta adalah bendera RRC, karena pemilik modalkota Meikarta adalah Taipa China, bukan orang Indonesia.

Untuk informasi tambahan, Siapa itu James Riadi? dalam catatan sejarah dan beberapa tokoh politik mengungkapkan bahwa sang konglomerat ini adalah salah satu otak terjadinya kerusuhan 1998. Pada saat itu, Mantan Presiden Soeharto yang sudah renta dan sakit-sakitan, ditekan oleh LB. Moerdani, James Riady dkk untuk menyelenggarakan sidang pembubaran parlemen DPR/MPR, melucuti semua atribut negara dan menyatakan negara ini lumpuh atau pilihan lain, kerusuhan dan amuk massa akan terjadi. Tapi Soeharto tidak mau mengikuti keinginan tersebut, lalu memilih membiarkan terjadinya kerusuhan massa, mendengar isu akan terjadinya kerusuhan besar, Jend. Prabowo yang saat itu menjabat sebagai komandan di lapangan (Kodam Jaya) diperintahkan oleh Panglima TNI dijabat Wiranto untuk membuat kekacauan dan amuk massa, tetapi Prabowo menganggap hal itu sama artinya negara ini akan hancur berkeping-keping, dan masyarakat yang jadi korbannya.

Maka untuk menghindari kehancuran besar, menghindari kerugian yang akan diderita orang pribumi, gerombolan amuk massa itu dialihkan kepada etnis minoritas, yang notabene adalah para kerabat James Riady sendiri, banyak korban jatuh, sehingga pecahlah kerusuhan itu menghantam kelompok etinis tionghoa di seluruh penjuru negeri. Kondisi yang tidak sesuai rencana awal ini mengakibatkan kerugian banyak di derita etnis tionghoa dan Wiranto menunjuk Prabowo sebagai orang yang harus bertanggung jawab dengan tragedi Mei 98 itu. Setelah kerusuhan besar itu, tak lama lembaga keuangan dunia IMF datang dan memberikan pinjaman dana. Lalu parlemen mengangkat BJ. Habibie sebagai pengganti Soeharto. Dan sampai dengan hari ini, Prabowo masih dijadikan kambing hitam dan penyebab kerusuhan Mei 98. Tapi coba ya anda bayangkan seandainya saja Prabowo tidak mengambil tindakan cepat, apa jadinya dengan negeri kita hari ini? Dan nampaknya setelah 20 tahun waktu berlalau, tahun 2018 ini akan menjadi babak penentuan akhir, apakah tragedi ikut akan terulang lagi dengan kembali bangkitnya PKI.

Nah itulah sebabnya, setelah sekian lama berlalu, James Riady datang lagi dengan segudang rencana, walau diiming-iming pembangunan kota megapolitan Meikarta, tapi siapa yang tidak sakit hati dengan rencana kudeta yang dilakukan di masa lalu. Karena sesungguhnya Kota Meikarta hanyalah cara ia ingin mengambil alih pusat pemerintahan negara ini.

Lalu kenapa Jokowi bersikap masa bodoh dengan nasib rakyat kecil yang selama pemerintahannya mengalami masa sulit dan penurunan daya beli drastis, ia bersikap ambigu dan cuek walau tau semua kondisi itu?

Jawabannya sederhana saja, karena memang itulah tujuan utamanya, membuat makin banyak rakyat menderita di bawah kekuasaannya, semakin banyak rakyat yang susah itu menunjukkan tingkat keberhasilan jokowi memimpin. Semakin banyak yang jatuh miskin dan menderita, semakin baik dan semakin sukses ia di mata para politisi. Karena itu adalah indikator utama, pengaruh kekuasaan telah berhasil membuat bangsa ini terpuruk. Negara internasional yang menjadi sahabat juga bertepuk tangan atas keberhasilan Jokowi ini, karena ini artinya pintu menuju keberhasilan sudah di depan mata, membuat bangsa ini bertekuk lutut dibawak kekuasaan tiran. Coba itu anda lihat bagaimana nasib petani garam, petani Kendeng, nelayan laut dan sebagainya, semuanya mengeluh dan menjerit tapi tidak ada satupun yang digubris, malah kebijakan yang dikeluarkan makin mencekik dan sengsara.

Terus gimana caranya PKI bisa menguasai negara yang penduduknya 250 juta ini? Gak mudah menundukkan penduduk muslim terbesar di dunia.
Urusan gampang, caranya dibagi dua, yang golongan menengah atas diberikan fasilitas mewah dan lengkap, kalo perlu disuap dengan uang dan kekuasaan. Golongan miskin, makin dipersempit ruang lingkupnya, lama-kelamaan mereka akan menyerah pada nasib, lalu merencanakan bunuh diri. Orang yang sudah terdesak ekonomi lama-lama akan depresi, lalu mencari jalan keluar dengan minum obat penenang, sebagaimana narkoba jenis PCC yang belakangan ini beredar bebas dipasaran. Obat-obat terlarang ini sengaja diperkenalkan dengan cara tragis menelan korban anak-anak, untuk menjukkan kecepatannya merenggut nyawa seseorang. memusnahkan penduduk ratusan juta bisa dilakukan secara bertahap, perlahan-lahan dan efektif. Narkoba yang paling efektif dan masif, karena tidak ada yang akan disalahkan, itu terjadi atas kehendak pribadi.

Lalu anda tahu kenapa Jokowi beli pesawat Sukhoi dari Rusia dengan barter komoditas Kopi? 
Itu adalah salah satu cara manipulasi keuangan Negara. Itu adalah salah satu bentuk kerjasama politik antar sesame Negara komunis dunia. Kopi adalah salah satu komoditas unggulan yang harga jualnya selangit di pasar internasional, kontrak jual beli ini berlangsung selama 3 tahun dari sekarang. Itu sama artinya kita tidak akan bisa menikmati kopi kita sendiri beberapa tahun lagi, karena seluruh hasil panen Kopi akan dibawa ke Rusia untuk dijadikan alat pembayaran yang sah. Dan jika kondisi seperti ini terus belangsung, lama kelamaan kita tidak akan memiliki lagi hak atas komoditi ini sebagai hasil perkebunan negeri ini, karena sudah dipatenkan di sana.

Jadi gak heran ya kenapa Jokowi mati-matian bangun jalan di tengah hutan kalimantan dan papua, kenapa Menkeu Sri Mulyani masih dipertahankan walaupun sudah terbukti gagal mempertahankan pertumbuhan ekonomi?
Karena Sri Mulyani menganut faham neolib tulen, ia juga dekat dengan para bangkir dan lembaga pemberi hutang dunia, peran Sri Mulyani sangat dibutuhkan dalam rangka mengeruk semua sumber pendapatan negara terutama dari sektor pajak. Sri Mulyani dinilai cakap dalam mengolah data dan memanipulasi data keuangan sehingga bisa dibuatkan laporan keuangan yang kelihatan normal dan wajar tanpa pengecualian. Itulah gunanya orang pintar dilingkungan penguasa saat ini, ia dijadikan alat untuk memuluskan berbagai tujuan dan rencana.

Lalu anda tahu kenapa negara kita ini ingin dijadikan negara komunis? mati-matian mereka rela berkorban jiwa dan raga untuk mewujudkan cita-cita itu., tidak peduli sudah berkali-kali dibantai masih terus ingin dibangkitkan lagi.
Alasannya karena sumber kekayaan alam negara ini masih sangat banyak dan harus dieksplotasi secara besar-besaran oleh China yang dimasa lalu juga pernah menganut sistem komunis, mereka memang saat ini sudah bukan komunis tapi sudah beralih menjadi sistem kapitalis, karena mereka sudah tidak punya sumber daya lagi, maka untuk bertahan mereka merubah ideologinya menjadi kapitalis, yang ekonomi yang hanya mengandalkan kekuatan pasar. Tapi karena indonesia ini masih perawan, untuk mencapai posisi negara maju, pertama indonesia harus menjadi negara komunis terlebih dahulu, karena hanya dengan sistem komunis semua kekayaan alam ini bisa keluar dari perut bumi, dan jika semua sumber daya alam sudah dieksploitasi, barulah indonesia akan menjadi negara maju, tetapi sebelum mencapai kesana, umat muslim harus disingikirkan dan di rubah ideologinya menjadi komunis terlebih dahulu. Lalu barulah jutaan imigran asal china, para pekerja dan buruh kasar akan masuk dan mengebor isi perut bumi negara kita ini hingga ludes tak bersisa, lalu mereka akan menguasai tanah kita, air kita, gunung dan semuanya lalu mereka akan mendominasi bangsa ini disegala bidang. Kondisi ini sudah terjadi di Singapura, kini penduduknya adalah keturunan China dan orang muslimnya sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Itulah sebabnya mereka membutuhkan komunis berkuasa lagi untuk menghancurkan dominasi mayoritas muslim.

Dan maraknya berita pelaporan berbagai pihak yang dikaitkan dengan isu politik, mulai dari ulama, ustad dan penceramah, dilaporkan karena alasan pencemaran nama baik. Beberapa anggota DPR yang vocal juga jadi sorotan media mainstream dan dicap tukang fitnah, lalu dilaporkan ke MKD dengan tuduhan macam-macam. Semua orang yang bicara PDIP itu PKI tidak pegang bukti yang sah, jadi mereka akan rentan menjadi sasaran pelaporan. Ada saja pihak yang mewakili pemerintah melaporkan tuduhan itu ke polisi. Makanya jangan sebut PDIP adalah PKI, gak akan bisa dibuktikan di meja pengadilan. Tapi cukup tahu saja bahwa mereka adalah satu bagian tak terpisahkan.

Makanya betul, sampai kapanpun PDIP tidak akan mengaku PKI, secara eksplisit mereka tidak akan pernah menampakkan diri sebagai partai komunis, tidak akan memakai atribut PKI, tetapi lihatlah pergerakannya di masyarakat, lihatlah berbagai kebijakan dan arah rencana pembangunannya. Kemana arah tujuannya, dengan siapa mereka berhubungan, bagaimana cara mereka bergerak dan menancapkan tiang pancangnya. Apakah kita masih membutuhkan bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan lagi bahwa apa yang sedang terjadi sekarang ini sudah merupakan bagian dari bukti kongkrit eksistensi mereka sedang menguasai bangsa ini.

Sejatinya allah swt menciptakan negeri yang kaya dan Indah ini, berbentuk pulau-pulau dan beranekaragam kekayaannya, bukan untuk bisa dibagi-kepada Negara lain. Indonesia tidak membutuhkan banyak dermaga/bandara untuk membuatnya mandiri. Indonesia bisa menjadi Negara maju dengan kekuatan sumber daya alam yang terkandung didalamnya lalu mengelolanya sendiri untuk kebutuhan dalam negeri. Indonesia tidak butuh siapapun untuk membuatnya besar, Allah swt sudah menyediakan semuanya lengkap disini, cukup untuk mensejahterakan semua penduduknya.

Dan seandainya Jokowi sungguh-sungguh ingin memajukan bangsa ini, ia tidak perlu mengundang serigala masuk ke dalam kandang, cukup tunggu diluar atau bahkan mengusir semua serigala yang sudah terlalu banyak merongrong negeri ini. Tapi lihatlah apa yang dilakukan, ia justru menggelar karpet merah dan membiarkan semua serigala masuk lalu mencabik-cabik para penghuninya.

Jadi memang ada benarnya juga berbagai isu yang beredar ketika pencalonan Jokosi menjadi presiden di tahun 2014 lalu, banyak yang memberitakan bahwa Jokowi adalah antek Aseng, Jokowi akan menjual negeri ini kepada China, Megawati akan mengendalikan semua kebijakan dan sebagainya, semua isu itu memang mengandung kebenaran. Dan semua itu sudah mulai tampak jelas di depan mata, walau mungkin kita semua bisa mengatakan bahwa semua ini sudah hampir terlambat, tetapi jika ALlah swt menghendaki semoga saja tidak terjadi.


Minggu, 10 September 2017

ISU ROHINGYA "DIGORENG", SIAPA PENIKMATNYA?

Baru-baru ini ramai diperbincangkan ketika Kapolri Tito Karnavian menilai Isu Rohingya di ekpose untuk diolah (digoreng) untuk menjatuhkan pemerintahan Joko widodo. Peran pemerintahan Jokowi menangani isu ini dianggap lemah. "Dari hasil penelitian itu bahwa isu ini lebih banyak dikemas untuk digoreng untuk menyerang pemerintah. Dianggap lemah," ujar Tito di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (5/9/2017).
Tito mengacu pada perangkat lunak analisis opini di platform media Twitter. Dari analisis tersebut, sebagian besar pembahasan mengenai Rohingya yang berkembang, dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo dan pemerintahannya.

"Artinya, isu ini lebih banyak digunakan untuk konsumsi dalam negeri, dalam rangka membakar sentimen masyarakat Islam di Indonesia untuk antipati kepada pemerintah. Ini gaya lama," kata Tito.

"Sekarang ada isu baru yang kira-kira bisa dipakai untuk digoreng-goreng. Ini penelitian ini dari software opinion analysist," kata Tito.

Soal goreng-menggoreng, Benarkah isu Rohingya dimanfaatkan segelintir orang untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi? Berikut ini ulasannya... 
_____________________________

Kenapa Kapolri mengeluarkan statement seperti ini, karena menilai reaksi yang ditunjukkan masyarakat terhadap tragedi ini berlebihdan, terlalu dibesar-besarkan, dan terlalu di dramatisir. Sementara lobi politik yang sudah dilakukan Menlu dianggap belum cukup dan ada beberapa pakar yang mengeluarkan statement bahwa diplomasi Indonesia terhadap Pemerintah Myanmar harusnya bisa lebih dari ini, bisa lebih keras. Nah pihak-pihak ini dianggap yang menambah keruh suasana dan keresahan masyarakat, lalu disimpulkanlah bahwa di balik tragedi ini ada yang ingin memancing di air keruh alias ingin mengambil keuntungan politik.

Tapi terlepas dari asumsi itu pada intinya, masyarakat tidak perlu menggunakan isu Rohingya untuk menjatuhkan pemerintah, masyarakat tidak butuh isu kemanusiaan untuk melengserkan pemerintah, masyarakat sudah punya skala penilaian sendiri terkait kinerja pemerintah Jokowi, tenang saja, Kapolri jangan panik dan kebakaran jenggot, merasa isu rohingya dipakai untuk menjatuhkan pemerintah. Masyarakat kita tidak bodoh dan dungu untuk memanfaatkan penderitaan orang untuk kepentingan politik suatu kelompok, isu ini memang sensitif tetapi tidak layak dipakai untuk alasan menari-nari diatas penderintaan orang lain. Pernyataan Kapolri ini justru makin menambah buruk citra pemerintahan Jokowi, dinilai tidak punya empati pada penderitaan orang dan malah menuduh umat islam menunggangi isu ini untuk menyingkirkan pemerintah.

Ditambah lagi, disaat semua orang membutuhkan kepastian dan dukungan pemerintah sebagaimana yang dilakukan Turki, di sini umat islam justru dihalangi dan dihadang ketika ingin menghadiri aksi solidaritas diberbagai daerah. Kenapa aparat kita bisa bertindak seperti ini, bukankan ini tidak ada bedanya tindak militer di Myanmar dengan di sini.

Untuk diketahui, Bagaimanapun keberadaan etnis Rohingnya, mereka sudah memiliki hubungan istimewa tersendiri di hati masyarakat muslim Indonesia. Apapun yang berkaitan dengan Rohingya, walaupun tidak memiliki hubungan sejarah dan kekeluargaan, tetapi Rohingya sudah seperti saudara sendiri. Sudah terjalin hubungan ukhuah diantara muslim Rohingya dan muslim di nusantara, tidak ada yang menapikan hal ini. Masyarakat juga sudah mengapresiasi apa yang dilakukan pemerintah indonesia di sana, tetapi kembali lagi, Berbagai aksi yang dilakukan masyarakat di lapangan adalah salah satu bentuk keprihatinan dan persaudaraan muslim, tidak lebih.

Jika ada yang mengkaitkan dengan kinerja pemerintah, harusnya pemerintah mengevaluasi kebijakannya, jangan-jangan memang belum maksimal dan terkesan bertele-tele. Maka wajar jika ada banyak pakar yang menilai hal itu memang tidak salah, dan jika ada pihak yang memanfaatkan kekurangan pola diplomasi pemerintah ini, harusnya pemerintah meningkatkan dan menunjukkan kinerja diplomasi yang tegas dan optimal. Bukan salah pakar dan ahli jika akhirnya mereka menyimpulkan diplomasi pemerintah Jokowi lemah dan tidak akan merubah keadaan. Dan bukan salah umat jika akhirnya mereka menunjukkan rasa simpatinya dengan melakukan aksi dan demonstrasi karena pemerintah dinilai lamban. Jika ada kelompok yang memanfaatkan isu ini, maka polisi harus buru mereka lalu bawa ke hadapan publik dan tunjukkan bukti dan modus mereka melakukan tindakan itu, setelah itu baru beri kesimpulan, jangan seperti ini, mengeluarkan statement yang melukai hati umat.

Bukannya ikut mendukung, malah balik menyerang umat yang sedang gundah gulana. Tindakan aparat menghalangi gerakan massa ini justru makin memperburuk citra pemerintahan Jokowi yang saat ini sudah banyak mendapat nilai merah di berbagai bidang. Jangan lagi menambah daftar nilai merah baru, dengan melakukan tindak persekusi kepada masyarakat, karena umat muslim tidak suka didikte dan diintimidasi lalu tuduh mau melakukan makar karena alasan kemanusiaan. Sungguh terlalu tuduhan itu, sangat keji dan berlebihan. Apakah polri tidak sadar bahwa mereka selama ini sudah digaji dari keringat rakyat, bukan digaji dari dana partai. Bukankan polisi diamanatkan untuk menjadi pengayom dan pelindung masyarakat, bukan menjadi kaki tangan penguasa.

Untuk diketahui bersama, ini adalah moment kebangkitan kembali, atas tindakan pemerintah yang menolak aksi umat menggelar keprihatinan kemanusiaan etnis Rohingya, nampaknya umat sudah harus dibangunkan kembali dari tidurnya. Beberapa waktu berlalu, setelah berhasil menghadiahkan hukuman penjara kepada pelaku penistaan agama (Basuki Cahaya Purnama/Ahok atas Penistaan Surat Al Maidah 51), umat nampaknya kembali dibangkitkan lagi dari tidurnya untuk kembali bergerak maju mendorong ditegakkannya hukum terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan di Myanmar. Umat harus kembali merapatkan barisan dan mendorong pemerintah untuk melakukan aksi kongkrit membela nasib etnis Rohingya. Polri nampaknya tidak sadar bahwa atas ucapannya itu, justru ibarat ia telah membangunkan macan tidur. Dan kali ini, skala perjuangan umat akan jauh lebih besar lagi, skala internasional harus ditempuh untuk mendapatkan keadilan. Atas berbagai rencana ormas yang ingin memberangkatkan relawannya ke Myanmar, semoga Allah swt memberkati dan memudahkan dan melancarkan semua urusan mereka dan betul-betul bisa menyelamatkan umat tertindas di medan perang. Semoga Allah swt menjadikan umat ini umat penyelamat agama Allah swt di akhir jaman. amin

PESAN TERAKHIR RASULULLAH MUHAMMAD SAW

Wasiat rasulullah saw kepada sekalian umatnya; Dari Abu Najih ’Irbadh bin Sariyah (rodhiallahu ‘anhu) ia berkata, “Rasulullah SAW pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Kami bertanya, Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat.

Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Allah ‘aza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak (Habsyi). Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunah-ku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah).

Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Rasulullah SAW telah memprediksi keadaan umat sepeniggal beliau nanti. Akan terjadi perselisihan yang besar pada umat Rasulullah SAW. Karena itu beliau juga berwasiat kepada para sahabatnya sebagai pegangan dikemudian hari.

Selasa, 29 Agustus 2017

ASAL NAMA "SARACEN"

Wikipedia, Saracen was a term widely used among Christian writers in Europe during the Middle Ages. The term's meaning evolved during its history. In the early centuries AD, Greek and Latin writings used this term to refer to the people who lived in desert areas in and near the Roman province of Arabia Petraea, and who were specifically distinguished as a people from others known as Arabs.[1][2] In Europe during the Early Middle Ages, the term came to be associated with tribes of Arabia as well.[3]
By the 12th century, "Saracen" had become synonymous with "Muslim" in Medieval Latin literature. Such expansion in the meaning of the term had begun centuries earlier among the Byzantine Greeks, as evidenced in documents from the 8th century.[1][4][5] In the Western languages before the 16th century, "Saracen" was commonly used to refer to Muslim Arabs, and the words "Muslim" and "Islam" were generally not used (with a few isolated exceptions).[6]

Early usage and origins[edit]


12th-century Reliquary of Saint Stanislaus in the Wawel Cathedral in Kraków is an exquisite example of Saracen art from Sicily or Palestine.
The term Saraceni might be derived from the Semitic triliteral root srq "to steal, rob, plunder", and perhaps more specifically from the noun sāriq (Arabic: سارق), pl. sariqīn (سارقين), which means "thief, marauder, plunderer".[7] Other possible Semitic roots are šrq "east" and šrkt"tribe, confederation".[8]
Ptolemy's 2nd century work, Geography, describes Sarakēnḗ (Ancient GreekΣαρακηνή) as a region in the northern Sinai Peninsula.[2] Ptolemy also mentions a people called the Sarakēnoí(Ancient Greekοἱ Σαρακηνοί) living in the northwestern Arabian Peninsula (near neighbor to the Sinai).[2] Eusebius in his Ecclesiastical history narrates an account wherein Pope Dionysius of Alexandria mentions Saracens in a letter while describing the persecution of Christians by the Roman emperor Decius: "Many were, in the Arabian mountain, enslaved by the barbarous 'sarkenoi'."[2] The Augustan History also refers to an attack by "Saraceni" on Pescennius Niger's army in Egypt in 193, but provides little information as to identifying them.[9]
Both Hippolytus of Rome and Uranius mention three distinct peoples in Arabia during the first half of the third century: the "Taeni", the "Saraceni" and the "Arabes".[2] The "Taeni", later identified with the Arab people called "Tayy", were located around Khaybar (an oasis north of Medina) and also in an area stretching up to the Euphrates. The "Saraceni" were placed north of them.[2] These Saracens, located in the northern Hejaz, were described as people with a certain military ability who were opponents of the Roman Empire and who were classified by the Romans as barbarians.[2]
The Saracens are described as forming the "equites" (heavy cavalry) from Phoenicia and Thamud.[10] In one document the defeated enemies of Diocletian's campaign in the Syrian Desert are described as Saracens. Other 4th century military reports make no mention of Arabs but refer to as 'Saracens' groups ranging as far east as Mesopotamia that were involved in battles on both the Sasanian and Roman sides.[10][11] The Saracens were named in the Roman administrative document Notitia Dignitatum—dating from the time of Theodosius I in the 4th century—as comprising distinctive units in the Roman army. They were distinguished in the document from Arabs.[10]

Medieval usage[edit]


Saracens landing on a coast, 915
Beginning no later than the early fifth century, Christian writers began to equate Saracens with Arabs. Saracens were associated with Ishmaelites (descendants of Abraham's older son Ishmael) in some strands of Jewish, Christian, and Islamic genealogical thinking. The writings of Jerome (d. 420) are the earliest known version of the claim that Ishmaelites chose to be called Saracens in order to identify with Abraham's "free" wife Sarah, rather than as Hagarenes, which would have highlighted their association with Abraham's "slave woman" Hagar.[12] This claim was popular during the Middle Ages, but derives more from Paul’s allegory in the New Testament letter to the Galatians than from historical data.[clarification needed]The name "Saracen" was not indigenous among the populations so described but was applied to them by Greco-Roman historians based on Greek place names.[13]
As the Middle Ages progressed, usage of the term in the Latin West changed, but its connotation remained negative, associated with opponents of Christianity, and its exact definition is unclear.[14] In an 8th-century polemical work, John of Damascus criticized the Saracens as followers of a false prophet and "forerunner[s] to the Antichrist."[15]
By the 12th century, Medieval Europeans had more specific conceptions of Islam and used the term "Saracen" as an ethnic and religious marker.[1][16] In some Medieval literature, Saracens—that is, Muslims—were described as black-skinned, while Christians were lighter-skinned. An example is in The King of Tars, a medieval romance.[17][18] The Song of Roland, an Old French 11th-century heroic poem, refers to the black skin of Saracens as their only exotic feature.[19]
In his Levantine Diary, covering the years 1699-1740, the Damascene writer ibn Kanan (Arabicمحمد بن كَنّان الصالحي‎‎) used the term sarkan to mean "travel on a military mission" from the Near East to parts of Southern Europe which were under Ottoman Empire rule, particularly Cyprus and Rhodes.[20]

Jadi Saracen di masa lalu diartikan sebagai kelompok orang kristen yang melakukan perlawanan dan membuat gerakan penolakan terhadap keberadaan orang-orang arab disemenanjung arab, dengan cara memutarbalikkan fakta dan memporakporandakan struktur tatanan sosial yang ada di masyarakat arab saat itu, mereka bekerja membuat banyak tulisan yang menolak bersatunya dua kelompok masyarakat yang berbeda agama, sehingga keduanya saling berseteru dan tidak mau membaur, terutama umat islam kristiani dan yahudi yang kala itu sejak awal sudah ada sejak nenek moyang mereka. Mereka menginginkan dibuatkannya pembatas yang jelas antara beda keyakinan, beda perlakuan dari masing-masing kelompok. Misi mereka adalah menolak segala bentuk pembauran umat beragama, percampuran dalam satu tatanan sosial harus dikotak-kotak dan diberi garis pembatas yang jelas.

Hal ini dibenarkan oleh Menkominfo;

Menteri Komunikasi dan InformatikaRudiantara menilai, kelompok Saracen tak cukup disebut sebagai penyebar hoaks.
Menurut dia, Saracen layak disebut sebagai penyebar kebencian dan pengadu domba.
Oleh karena itu, menurut dia, wajar jika polisi menjeratnya dengan berbagai pasal selain hoaks, tetapi juga pasal terkait SARA dan sebagainya.
Rudi mengatakan, penilaiannya ini berdasarkan konstruksi konten berita yang disebarkan oleh Saracen kepada publik di dunia maya.
“Memberikan berita palsu seolah menyerang suatu kelompok dan mengadu dengan kelompok lain. Jadi ini bukan sekadar hoaks,” ujar Rudi dalam acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV, Senin (28/8/2017) malam.

Jadi bukan karena motif ekonomi semata, memang ada unsur kesengajaan dan tujuan memecah belah bangsa. Ada organisasinya, struktur pengurusnya, dan dana dan modalnya. Kelompok ini terorganisir rapi dan tersembunyi, mereka sudah ada sejak jaman romawi dan berevolusi mengikuti perkembangan jaman, cara kerja mereka sama persis dengan leluhurnya, menyebarkan kebencian dan permusuhan di masyaraka dat agar selalu berkelahi dan bertentangan, mereka bersembunyi di balik ketiak pemilik modal raksasa untuk menciptakan permusuhan dan kegaduhan.


Minggu, 27 Agustus 2017

KEMBALINYA KEJAYAAN ISLAM DAN BANGKITNYA EKONOMI UMAT

Ramai-ramai orang bicara kembalinya masa kejayaan islam, ada banyak gerakan di masyarakat yang mulai melirik bisnis syariah dan tanpa riba bagi segenap umat muslim di tanah air. Timbulnya kesadaran dan semangat ingin meninggalkan sistem pendanaan ribawi yang sudah ada tercetus sejak mencuatnya aksi 212 beberapa waktu lalu. Timbul kesamaan visi umat yang melihat kesalahan sistem pendanaan selama ini menggunakan asas bunga dan riba dinilai lebih banyak keburukan dan maksiatnya dibanding mudaratnya bagi umat muslim sendiri. Sebagimana kita ketahui bahwa hukum riba sangat di larang dalam islam, tetapi mengapa hal itu dibiarkan. Kenapa umat muslim justru merasa nikmat menggunakan sistem riba sementara hukum syariah ada dan bisa diterapkan karena umat muslim saat ini tidak dalam keadaan tertekan atau keadaan perang.

Faktanya sistem konvensional memang layaknya duri dalam daging sudah merambah ke berbagai sektor dan bahkan sudah mendarah daging dalam tubuh kita. Ada semacam ketidakpercayaan diri ketika disodorkan mekanisme sistem syariah dan tetap memilih sistem riba, walaupun tahu sistem riba akan banyak mencelakakan dan merugikan. Semua ini disebabkan karena umat sendiri yang tidak mau berubah dan bekerja keras menolak sistem perbankan dan keuangan umum lalu menukarnya dengan sistem syariah, karena banyak alasan. Yang paling umum adalah karena kenyamanan berinvestasi yang ditawarkan sistem perbankan konvensional lebih terjamin keamanannya jika dibanding sistem bagi hasil yang diterapkan bank syariah. Sistem bank syariah dianggap masih kecil permodalannya, sedikit peminatnya, kurang lengkap fasilitas pendukungnya dan tingkat bagi hasil yang dirasa kurang menguntungkan.

Lalu kenapa harusnya kita percaya diri bahwa umat bisa menuju puncak kejayaan jika semua mau bersatu? Lihat saja bagaimana hebatnya semangat umat ini dalam hal gotong royong, ukhuah dan kebersamaan, berapa sebenarnya potensi ekonomi yang bisa digerakkan oleh umat dalam skala kecil dan menengah, beberapa kejadian yang mencuat belakangan ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa besarnya potensi dana yang terkumpul dari dana masyarakat terutama umat muslim membuka mata kita bahwa harusnya ini bisa menjadi modal awal yang cukup bikin ngeri perbankan konvensional jika saja umat beralih kepada sistem perbankan syariah. Berikut ini kami urikan rinciannya:

1. Kasus Gusti Kanjeng, Taat Pribadi, siapa yang menyangka hanya dengan modal iming-iming pat gulipat di tangan kosong, sang kanjeng bisa mengumpulkan uang ratusan hingga triliunan rupiah dari umat yang dengan sukarela menyetorkan dana pribadinya untuk digandakan. Ini artinya umat ini memiliki banyak sekali uang di kantong mereka sehingga mereka merasa perlu memperbanyak lagi walau dengan cara yang tidak wajar dan walaupun akhirnya dana mereka tidak bisa kembali. Tapi setidaknya ada rasa optimis mereka menanamkan uangnya kepada perorangan walau tidak ada jaminan uang kembali, itu artinya sebenarnya mereka percaya dan yakin ada mekanisme yang dapat melipatgandakan harta walau dengan cara ghaib sekalipun.

2. Kasus Koperasi Pandawa, berapa banyak dana yang terkumpul dari sekedar kegiatan koperasi beriming-iming bunga 10 persen per bulan, ada ribuan anggotanya yang sudah menyetorkan uang dan sudah menerima keuntungan tetapi uang pokok mereka tidak kembali. Disinyalir sang pemilik pandawa sudah mengantongi uang dengan berbagai aset yang sudah dikumpulkan. Disini kita juga melihat bagaimana masyarakat sangat tergiur dengan imbalan 10 % yang ditawarkan pemilik usaha, walau juga sama tidak ada jaminan uang kembali dan mereka sadar telah memasukkan uangnya untuk dikembangbiakkan dengan cara tidak halal (riba), tetapi satu hal adalah bahwa mereka percaya dengan janji sang pemilik Pandawa dan mereka sudah siap dengan konsekuensinya.

3. Kasus First Travel, dari total 56 ribu jamaah yang batal diberangkatkan, disinyalir uang yang terkumpul dari hasil penipuan berkedok perjalanan umroh ini triliun rupiah, ini bukan jumlah uang sedikit. Uang ini digelapkan dan disalurkan ke hal-hal yang tidak jelas penggunaannya bahkan dipakai untuk kepentingan pribadi sang pemilik. Berapa banyak umat yang tertipu dengan iming-iming paket harga murah dan mereka menganggap harga miring itu tidak akan merugikan mereka dan tetap merasa yakin mereka akan diberangkatkan, walaupun sang pemilik kini sudah berada di dalam penjara. Miris sekali melihat perilaku umat saat ini, mereka terlalu yakin pada hal-hal fiktif yang disodorkan para penipu.

Dari tiga kasus ini dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya kebanyakan umat muslim dinegeri ini terlalu mudah diperdaya oleh iming-iming penipu berkedok agama. Umat kita terlalu mudah dikelabui dan dijanjikan banyak hal bisa jadi karena selama ini mendapatkan uang dengan sistem riba dan akhirnya uang yang mereka dapatkan pun lenyap dalam sekejap mata akibat pola pokir ribawi dan mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu secepat-cepatnya dari cara-cara tidak wajar yang disodorkan para penipu pencari kekayaan dan kesenangan duniawi. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan

Padahal dalam agama yang mereka anut dan di yakini Islam, sudah tertera sangat jelas bahwa bagi siapa saja yang ingin beruntung maka sebaiknya ia melakukan perdagangan dan jual beli dengan Allah swt dengan cara yang baik. Lakukanlah transaksi yang benar, berbuat baik akan diganjar 10 kali keebaikan. Bayaran yang Allah tawarkan bukan dalam kerangka kesepakatan kerja majikan-buruh, karena biasanya buruh digaji lebih kecil daripada jerih payahnya. Yang Allah tawarkan dalam al-Qur`an adalah kerangka kesepakatan bisnis, berupa pinjam-meminjam dengan bunga pinjaman yang berlipat ganda serta jual-beli dengan nilai tukar yang sangat tidak sebanding; ibarat meminjam seekor nyamuk lalu mengembalikan dalam bentuk seekor kuda atau membeli seekor lalat dengan bayaran seekor unta. Berikut ini transaksi pinjam meminjam yang Allah tawarkan:

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ 
(QS: At-Taghabun [64]:17).

Dan hal transaksi seperti inilah yang sebaiknya dilakukan oleh banyak umat muslim, menyalurkan hartanya yang berlebih untuk berjuan di jalan Allah swt. Harta yang ada di dunia ini diberikan Allah swt bukan untuk digunakan berfoya-foya dan bermegah-megah, melainkan untuk ditransfer ke akhirat dalam bentuk amal shalih.

LALU BAGAIMANA CARA MEMBANGKITKAN EKONOMI UMAT?
Lakukanlah perdagangan dengan tidak menggunakan hukum riba melainkan hukum syariah. Sebagaimana yang terjadi belakangan ini diberbagai daerah dibentuknya Koperasi Syariah Amanah Muttaqien Pekayon dan Dewan Keluarga Masjid (DKM) dan Mushola Pekayon, mereka mengoperasikan 212 Mart yakni mini market Islami besutan Koperasi Syariah 212 (KS 212). Mini market 212 ini didirikan oleh 180 anggota Koperasi Syariah Amanah Muttaqien Pekayon, ada sekitar 12 orang yang menjadi konsorsium membeli Indomaret seharga Rp 1,1 miliar. Semangat seperti ini harus didukung dan dikembangkan, jangan lagi kita menunggu campur tangan penguasa di dalamnya, gerakkan sendiri oleh umat untuk umat.

Ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan kejayaan umat yang kini sudah seharusnya lepas dari jerat bunga dan riba. Harus sudah dimulai dari umat sendiri, kesadaran untuk mengambil alih kendali ekonomi di tangan muslim, jangan lagi mau dijajah oleh kaum kapitalis yang menjerat setiap nasabahnya untuk terus berhutang hingga tidak tersisa sedikitpun harta mereka kecuali iman yang sedikit. Tolonglah saudara kita yang kesusahan, bantulah mereka keluar dari masalah ekonomi yang sudah sangat kronis ini. Jangan lagi bicara suku, kelompok dan keuntungan materi, bicaralah kesamaan visi, kejayaan islam, kemenangan akhir. Bahkan Rasulullah saw saja sudah menjadi pengusaha di usia belia, ia melakukan perdagangan di berbagai penjuru wilayah menawarkan barang dagangannya dengan santun dan lemah lembut. Kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama seperti halnya rasulullah saw contohkan. Masih banyak yang harus dibenahi di negara ini, yang dibutuhkan hanya keberanian dan keyakinan bahwa Allah swt akan selalu ada bersama kita.

source
http://www.berita.islamedia.id/2017/08/212-mart-berhasil-ambil-minimarket-indomaret-di-bekasi.html

Label