Minggu, 25 September 2016

BENARKAH WARGA JAKARTA PUAS DENGAN KINERJA PETAHANA?

Baru-baru ini Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil survei terkait kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Hasil survei itu memperlihatkan tingkat kepuasan warga Jakarta jelang Pilkada DKI 2017. Menurut hasil survei tersebut, kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Ahok sebesar 68,72 persen, sedangkan responden yang tidak puas sebesar 27,7 persen. Respoden sisanya menjawab tidak tahu. Dari hasil survei tersebut, responden menyebut salah satu keberhasilan pemerintahan Ahok-Djarot yaitu pelayanan kesehatan yang terjangkau sebesar 75,4 persen dan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan fasilitas umum sebesar 69,7 persen. Namun, masih ada 24,9 persen responden yang menganggap Ahok belum bisa mengurangi kemacetan. Begitu juga terkait harga kebutuhan bahan pokok yang masih belum terjangkau, ketidakpuasan responden mencapai 23 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 6-9 September 2016 dan melibatkan 400 responden. Margin of error survei ini diklaim sebesar 4.95 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Metode pengumpulan data dilakukan secara tatap muka menggunakan kuisioner. Benarkah warga sudah merasa puas dengan kinerja Petahana (Ahok dan Djarot)?

Ulasan warga
Sebuah hasil survey diumumkan kepada public dalam skala nasional ini kami anggap terlalu berlebihan dan mengada-ada, mengapa? Karena cakupannya terlalu umum dan luas, dan sebagaimana kita semua tahu bahwa Jakarta ini adalah ibukota Negara, pusat pemerintahan ada di Jakarta dan bahkan semua instansi pemerintahan juga berafiliasi di Jakarta. Sebagai contoh bahwa warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan kesehatan, itu bukan berarti karena peran besar kebijakan petahana, itu disebabkan karena di Jakarta ada kementerian kesehatan yang menggulirkan berbagai kebijakannya melalui pelayanan kesehatan masyarakat memang lebih baik dan ini adalah karena besarnya peran kementerian kesehatan dan BPJS yang berpusta di Jakarta. Atau misalnya kepuasan terhadap fasilitas umum, jika saja survey ini menunjukkan secara spesifik fasilitas umum yang dimaksud seperti; apakah warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan transportasi umum? Dengan melihat kondisi transportasi umum yang ada saat ini, pasti warga Jakarta akan memberikan nilai rendah terhadap hasil kerja petahana. Atau misalnya apakah warga merasa puas dengan penanganan banjir? Apakah warga merasa puas dengan penanganan sampah? Apakah warga puas dengan cara penanganan daerah kumuh? Semua point2 ini akan menunjuk langsung pada tingkat kinerja petahana, bukan hal-hal yang bersifat umum seperti yang disebutkan dalam survey tersebut. Survey ini tidak valid untuk menunjukkan t-qaingkat kepuasan warga terhadap tingkat kinerja petahanan. Disamping itu survey ini juga hanya melibatkan 400 orang atau kurang dari satu persen penduduk Jakarta.

Lalu melandasi pada survey tersebut, apakah ini juga berarti sebagian warga Jakarta menyatakan diri mereka puas dengan kinerja pemda walau faktanya jalan-jalan masih macet parah di hari kerja, banjir dan genangan air masih mengepung jika hujan lebat turun, pedagang kaki lima yang menjamur dimana-mana, meski pemukiman kumuh penduduk juga masih padat di berbagai lokasi, meski berbagai fasilitas umum tidak berfungsi (baru2 ini JPO ambruk akibat beban papan reklame), meski fasilitas social dan fasum layak tidak berfungsi, meski sumber air bersih yang layak pakai pun jakarta tidak bisa menyediakannya, meski system pengelolaan sampah yang ramah lingkungan pun tidak diterapkan, meski fasilitas pelayanan public pun masih banyak kekurangan di sana-sini, meski tingkat pengangguran juga tinggi, dan meski-meski lainnya dan sebagainya yang mana sebenarnya kondisi Jakarta masih sama saja dengan yang ada sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan alias Jakarta masih jalan ditempat.

Apakah kondisi seperti ini yang membuat warga Jakarta merasa puas dan mereka merasa perlu mempertahankan kinerja petahana? Kita semua dibuat bingung dengan jawaban survey ini ingin menunjukkan apa, disisi mana mereka merasakan kepuasan atas kinerja petahana, sementara kondisi yang ada dilapangan masih sama saja atau bahkan lebih buruk lagi. Sebagai contohnya saja kondisi jalan trotoar Tanah Abang yang sebelumnya sudah berhasil di bersihkan dimasa Jokowi, kini kembali kumuh dan menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan setiap hari dilakukan pengusiran oleh petugas Satpol PP dan membuat kegaduhan di jalan. Atau penerapan kebijakan Ganjil-genap untuk menggantikan kebijakan Three in one di jam2 sibuk, faktanya itu sama sekali tidak mengurangi kemacetan, hanya memindahkan titik kemacetan ke lokasi lain atau hanya membuat bingung warga yang ingin melintas jalan Protokol. Atau kebijakan pemda memindahkan warga korban penggusuran, hingga kini masih menyisakan kekacauan. Dan lain-lain masalah yang dihadapi warga Jakarta.

Jadi dalam hal ini warga Jakarta itu menyatakan kepuasannya dalam hal apa? Jika semua permasalahan kota yang paling mendasar saja selesai. Bagaimana mereka bisa bicara puas kepada kinerja petahana? Apakah survey ini dibuat hanya karena ingin mengangkat pamor sang petahana yang sedang diusung untuk kepentingan Pilgub DKI-1 2017? Apakah lembaga survey juga harus ikut2an main politik dalam rangka menghimpun opini public? Ooh…yang benar saja. Apakah warga harus percaya dengan hasil survey yang tidak valid seperti ini. Survey ini dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya baik dilihat dari jumlah responden, aspek yang ingin dinilai dan juga dari hasil yang dicapai. Harusnya survey ini memiliki tingkat validitas yang tinggi baru bisa disajikan dan dipublikasikan kepada public sebagai bagian dari hasil akurat sebuat lembaga penelitian independen.

HAKIKATNYA MENGAJAK PADA KEBAIKAN DAN MENCEGAH KEBURUKAN

Jika anda adalah salah seorang yang suka menulis artikel berisi ajakan pada kebaikan, tahukah anda apa hakikat dari mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan? kenapa kita dianjurkan untuk saling mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan? dan apa ganjaran bagi yang melakukan hal tersebut? Bagaimana Allah memandang mereka yang selalu melakukan kebaikan demi mencegah keburukan? Berikut ini uraiannya. Semoga anda memahami bahwa kebaikan itu bukan hanya akan memperbaiki orang lain, melainkan kebaikan itu akan kembali kepada diri sendiri dalam berbagai bentuk.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat pada manusia lain dan sejelek-jeleknya manusia adalah yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah (cegahlah) dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu hendaklah dengan lidahmu, dan kalau tidak mampu maka hendaklah dengan hatimu; demikian ini menunjukkan lemahnya iman.”

Maksudnya lemah dari segi perbuatan orang-orang beriman. Kata sebagian ulama, maksudnya mencegah dengan tangan adalah khusus bagi para pemimpin, mencegah dengan lidah adalah khusus bagi para ulama, dan mencegah dengan hati adalah bagi orang-orang awam (umum). Penjelasannya; dan orang-orang yang mampu melakukannya sama dengan memiliki kewajiban memberantas kemungkaran. Sebagaimana Allah swt berfirman:

“Tolong-menolonglah kamu dalam berbuat baik dan taqwa, serta janganlah kalian tolong-menolong dalam kejahatan dan dosa." (QS. Al Maidah:2)

Hal yang termasuk tolong-menolong ialah menyerukan kebajikan dan memudahkan jalan untuk ke sana, menutup jalan kejahatan dan permusuhan dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan.

Sabda Nabi saw. dalam hadist lain:

“Barangsiapa yang menggertak pemilik bid’ah maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barangsiapa ang menghinakan pemilik Bid’ah maka Allah akan memberikan rasa aman pada hari mengejutkan. Dan barangsiapa yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka dia adalah Kahlifah Allah di muka bumi, Khalifah Kitabullah dan Khalifah Rasulullah.”


Melalui Hudzaifah ra. Nabi saw. bersabda: ”Akan datang suatu zaman menimpa manusia, dimana bangkai keledai yang busuk lebih mereka sukai daripada orang mukmin yang beramar ma’ruf nahi mungkar!”

Allah swt berfiman:

“Orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain; dengan memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran serta mendirikan shalat.” (QS. 9:7)


Dan Allah mencela kaum yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar tertera dalam firman-Nya:

“Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang mereka perbuat (tidak saling melarang antara satu dengan yang lain), sungguh amat buruk apa yang mereka perbuat.”

Melalui Sayyidah Aisyah ra. Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah telah menyiksa suatu perkampungan yang penghuninya hanya berjumlah 18 orang, padahal amal mereka bagaikan para nabi.”

Mereka bertanya: “Bagaimana bisa, Ya Rasulullah!"

Nabi saw menjawab: “ Mereka tidak memarahi sesuatu karena Allah dan juga memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah.”

Mereka kembali bertanya, “Lalu seperti apa bentuk siksaannya ya Rasul!”

Nabi saw menjawab, “Allah menguasakan kepada mereka penguasa yang dhalim, yang tidak menghargai orang tua dan tidak menyayangi anak-anak mereka, atau orang-orang pilihan berdoa namun doanya tidak dikabulkan, dan yang memohon pertolongan namun tidak didatangkan pertolongan, dan mereka juga minta ampun namun tidak mendapat ampunan.”

Allah Ta’ala dalam hadist Qudsi Allah berfiman: “Wahai anak cucu Adam, janganlah kalian menjadi orang yang ahli mengakhirkan tobat, panjang angan-angan dan kembali ke akherat tanpa bekal, bicaranya seperti ahli ibadah (suka menasehati orang) tapi perbuatannya bagaikan orang munafik (nasehatnya tidak dipakai untuk dirinya sendiri), bila diberi tidak pernah puas dan kalau dihalangi tidak mau bersabar. Ia mencintai orang yang shaleh namun bukan yang berasal dari golongan mereka, serta membenci orang-orang yang munafik padahal termasuk golongan munafik. Mereka memerintahkan kebaikan namun tidak pernah mengerjakannya juga, mereka mencegah kejahatan namun dilain waktu mereka juga melakukan kejahatan serupa."

IMBALAN BAGI YANG MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Kata Musa as.: “Wahai Tuhan, apa balasan bagi orang yang memanggil saudaranya dan yang beramar ma’ruf nahi mungkar?”

Allah Taala berfirman :”Setiap kalimatnya aku tulis untuknya bagai ibadah setahun, dan AKU malu menyiksanya dengan api neraka."

Abu Dzar Al Ghifari ra. Berkata: dari Abu Bakar Ash Shidiq berkata: “Ya rasul, apakah ada perjuangan lain yang lebih utama selain perang melawan kaum musyrik (menyekutukan Allah)?”

RAsulullah saw. menjawab: “Wahai Abu bakar, menurut pandangan Allah seorang pejuang di bumi (khalifah) lebih utama daripada para syuhada yang hidup dan diberi rezeki serta berjalan di bumi, dimana Allah akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat langit. Surga telah berhias diri dan akan menyambut kedatangan mereka sebagaimana berhiasnya Ummu Salamah ra. Untuk Rasulullah saw.”

Abu Bakar Asd Shidiq berkata: “Siapakah mereka ya Rasul!”

Jawab RAsul saw, “Mereka adalah orang-orang yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah, yang mencintai dan membenci karena Allah Ta’ala.”

Kata Ubaidah bin Jarroh ra. :”Ya Rasul, Syuhada manakah yang paling mulia di sisi Allah swt.”

Beliau saw. bersabda: “ Lelaki yang menghadapi penguasa yang menyeleweng dan ia memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi kemungkaran, namun ia dibunuh oleh penguasa itu, maka kelak derajatnya di syurga ada diantara Hamzah dan Ja’far.”


Rasulullah juga bersabda:
Demi Dzat Yang menguasai Jiwaku, sesungguhnya ada seorang hamba yang berada di kamar yang lebih tinggi dari kamarnya para syuhada. Tiap kamarnya ada 300 pintu, dan setiap pintunya terbuat dari mutiara Ya’qut dan Zamrud Hijau, dimana setiap pintunya ada cahaya yang menyinari.

Tiap laki-laki diantara mereka bisa menikahi 300 bidadari yang bermata jeli yang mampu menundukkan pandangan setiap laki-laki sambil bekata;”Apakah engkau ingat pada hari dimana engkau telah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar!”

Dalam sebuah hadist, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
“Wahai Musa, Masihkah engkau beramal demi Aku dengan amalan yang sempurna!”

Nabi Musa as. Menjawab: “Wahai Tuhan, aku telah sembahyang karena Engkau, berpuasa juga karena Engkau, bersedekah juga karena Engkau, bersujud dan memuji karena Engkau, serta membaca Kitab-Mu dan Dzikir kepada-Mu.”

Allah berfirman, "Wahai Musa, sebab shalat engkau memperoleh hujjah, lantaran puasa engkau memperoleh perisai, lantaran sedekah engkau memperoleh perlindungan, lalu amalan manakah yang engkau taruhkan untuk-Ku!"

Musa Berkata, "Tunjukkan padaku Tuhan, amal manakah yang harus aku kerjakan!"

Lalu Allah berfirman:
“Wahai Musa,apakah engkau pernah mencintai kekasih-Ku semata-mata karena Aku! dan memusuhi musuh-Ku karena Aku!. Sesungguhnya amal perbuatan yang paling utama ialah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah atas musuh-musuh Allah."

Wahai suadaraku, sudahkah kita mencapai tingkatan itu jika kita memang termasuk orang yang suka mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mengajak orang pada kebaikan semata-mata karena mengharap Allah Ridho kepada usaha kita, berharap kebaikan itu membuahkan kebaikan lain yang juga akan membawa kebaikan bagi agama Allah swt. Mencegah kemungkaran juga karena Allah, diharapkan kejahatan itu tidak akan membawa dampak buruk pada agama Allah, karena itulah sebaik-baiknya amal di sisi Allah swt. Jika kita memang mengaku sebagai orang islam dan mengetahui dengan jelas apa itu makna amar ma'ruf nahi mungkar, maka apakah kita masih hanya berdiam diri menunggu keajaiban.

Label