Jumat, 16 Juni 2017

ESOK, EKOMONI KITA AKAN MAKIN SURAM SAUDARAKU

Berikut ini kami sampaikan sebuah makalah tentang pembahasan efek perlambatan ekonomi global yang ditulis di tahun 2015 oleh seorang pakar ekonomi Prof Firmanzah PhD Guru Besar FEB UI dan dampaknya bagi ekonomi Indonesia ke depan. Dalam paparannya dua tahun yang lalu itu (kala itu pemerintahan Jokowi baru terbentuk), ia menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu ke depan Indonesia akan terkena dampak perlambatan ekonomi global (yaitu yang sedang terjadi saat ini 2017), dan ia menunjukkan apa saja yang menjadi faktor pendorongnya serta tindakan yang harus segera dilakukan untuk menghindari efek buruknya. Ada banyak penyebab, dan masih bisa diantisipasi selama pemerintah mau dan berusaha keras. Tapi sayangnya, semua itu tidak terjadi, apa yang kita alami saat ini adalah sebuah fakta dan kenyataan pahit dan sudah mulai bergulir, karena ternyata keadaan ekonomi kita semakin memburuk dan parah menahun, angka pertumbuhan menunjukkan tren menurun. Semakin banyak PHK dimana-mana, daya beli melemah, pemangkasan subsidi besar-besaran, penerapan pajak gila-gilaan, pembangunan infrstruktur yang berjalan lambat, dan pemberdayaan UMKM yang justru banyak mematikan ekonomi lemah akibat semakin membanjirnya pasar ritel dan eceran di sentra-sentra produksi.

Ekonomi mulai terdegradasi oleh arus perlambatan ekonomi global, akibat terjadinya Brexit (Britisht Exit dari Uni Eropa), dan kondisi ekonomi ke depan juga akan kembali memburuk karena terjadinya Qarxit (Qatar Exit dari Uni Emirat). Yaitu dimana para negara pemegang modal terbesar dunia memisahkan diri dari perkumpulan negara maju bisa membawa dampak besar bagi perekonomian global. Indonesia yang ekonominya belum mandiri, bisa terpengaruh kondisi ini secara perlahan. Dimana arus perpurataran uang akan berubah dan beralih ke negara-negara maju yang stabil ekonominya. Jika negara kita tidak pandai memanfaatkan moment ini, maka celakalah kita semua. Jadi sekali lagi, ini adalah sebuah peringatan, bahwa beberapa tahun ke depan ekonomi kita akan makin memburuk, pertumbuhan juga makin lemah, sebuah peringatan untuk memberi petunjuk kepada kita agar lebih berhati-hati dan tidak bertindak gegabah dalam berinvestasi atau mengelola keuangan. Kondisi ini bukan sekedar akibat tim ekonomi pemerintahan Jokowi yang tidak bisa mengantisipasi pelemahan ekonomi global yang sedang berlangsung dan tidak bersikap hati-hati dalam menerapkan kebijakan ekonominya, tetapi lebih dari pada itu, pelemahan ekonomi ini diakibatkan seluruh negara juga sedang mengalami hal yang sama, mengalami penurunan dan pelemahan berbagai bidang, ekonomi dunia sedang bergejolak.

Dunia sedang mengalami eliminasi massal/proses seleksi alam memilih kelompok mana yang mampu bertahan mana yang tidak mampu harus disingkirkan dari percaturan dunia. Tidak ada yang menyadari bahwa kondisi saat ini dunia sedang mengalami krisis, krisis global, perlambatan pertumbuhan yang penuh ketidakpastian sedang menggerogoti setiap negara tanpa kecuali, tetapi tidak ada yang sadar dengan hal itu. Menganggap ini adalah fenomena biasa, kondisi krisis saat ini dianggap lebih baik daripada krisis moneter tahun 1998 tetapi sesungguhnya tidak. Krisis tahun 1998, ibarat lemparan bola, walau terjadi penurunan tajam tetapi bisa memantul kembali dengan cepat, artinya bisa langsung terjadi pertumbuhan dengan cepat kembali ke posisi normal. Kondisi krisis yang terjadi saat ini, trend penurunannya stabil sama sekali tidak ada daya dorong ke atas, bahkan cenderung menukik ke bawah. inilah kondisi yang sesungguhnya terjadi, krisis kali ini memang tidak menunjukkan keterpurukan ekonomi secara drastis, tetapi pelemahan ekonomi yang terus menerus secara perlahan melemahkan kekuatan ekonomi global secara masif, sampai dengan saat ini sudah banyak negara yang jadi korban dan berguguran tak mampu bertahan.

Dan yang paling terguncang adalah negara-negara timur tengah, disamping mereka ditekan oleh jatuhnya harga minyak dunia, mereka juga di teror dengan gerakan ISIS, bibit-bibit perpecahan pun mulai tumbuh. Jadi Ini adalah situasi yang sengaja diciptakan untuk menyingkirkan negara-negara yang tidak sejalan dengan visi negara neolib kebanyakan (lihat hasil konferensi KTT G-20 belakangan ini). Maka dari itu, Ekonomi di hari esok akan semakin suram, Kenapa ekonomi Indonesia tahun depan akan suram? Tahun 2018 sudah jatuh tempo pembayaran utang luar negeri US$ 800 milliar, dan target penerimaan pajak dalam RAPBN 2018 pun sudah dinaikkan dari rencana semua, pemerintah juga berencana memindahkan ibukota ke daerah lain yang dananya diambil dari swatsa alias pemerintah akan menambah hutang negara lagi. Ini artinya apa? ini artinya indonesia akan berada dalam situasi paling buruk karena ekonomi akan benar-benar berhenti alias stagnan.

Kenapa kita harus waspada? Jika anda baca beberapa jurnal ekonomi dari beberapa pakar ekonomi, kondisi ekonomi negara kita diprediski akan memburuk, karena tim ekonomi Jokowi dianggap gagal mempertahankan pertumbuhan, dimana sang ketua tim ekonomi yang diketuai oleh Menteri keuangan Ibu Sri Mulyani dikenal beraliran Neoloberal, sementara negara-negara eropa yang sudah menganut faham neoliberalisme selama bertahun-tahun kini dalam keadaan kolaps alias ambruk ekonominya dan mereka tidak bisa bangkit dari keterpurukan. Negara kita yang selama ini beraliran ekonomi kerakyatan sedang digiring dalam arus neoloberalisme, semua aset dijaminkan kepada penghutang.

Negara ini benar-benar dalam keadaan sakit dan lumpuh. Pertumbuhan hanya terjadi di negara-negara maju, sementara negara yang tidak bisa mengatasi akan masuk dalam neraka kehancuran. Maka dari itu siapkan banyak perbekalan dan terapkan gaya hidup sederhana dan hemat, pandai-pandai membaca situasi keadaan, jika tidak anda akan masuk dalam pusaran arus kesulitan/resesi ekonomi mematikan. Selamat membaca...

Antisipasi Efek Perlambatan Ekonomi Global Koran SINDO Senin, 20 April 2015 - 09:18 WIB

Baru-baru ini Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan laporan tentang World Economic Outlook yang menyatakan tren perlambatan ekonomi global masih akan terjadi hingga 2020. Menurut Olivier Blanchard, Direktur Riset IMF, terdapat beragam faktor sangat kompleks yang membentuk arah perekonomian global. Mulai dari ancaman suku bunga di Amerika Serikat (AS) sampai ketegangan di Timur Tengah. Dari pelemahan harga komoditas dunia sampai volatilitas nilai tukar mata uang. Pemulihan ekonomi global yang tadinya diperkirakan terjadi pascakrisis subprime-mortgage dan krisis utang Eropa ternyata memberikan bentuk yang berbeda antara negara maju dan negara emerging.

Dalam laporannya, IMF memperkirakan rata-rata potensi pertumbuhan ekonomi negara maju untuk periode 2015-2020 sebesar 1,6%. Proyeksi ini naik sedikit dari rata-rata pertumbuhan ekonomi kelompok negara ini sepanjang tahun 2008-2014 sebesar 1,3%. Proyeksi rata-rata pertumbuhan 2015-2020 masih di bawah ratarata pertumbuhan ekonomi negara maju sebelum krisis 2001-2007, yaitu sebesar 2,25%. Sementara untuk kelompok negara emerging, IMF memproyeksikan rata-rata potensi pertumbuhan 2015- 2020 sebesar 5,2%. Proyeksi ini jauh lebih rendah dari rata-rata realisasi pertumbuhan ekonomi negara emerging sepanjang tahun 2008-2014 yang sebesar 6,5%. Sementara untuk tahun 2015, IMF memperkirakan ratarata pertumbuhan ekonomi negara maju akan sedikit membaik menjadi 2,4%, dibandingkan dengan realisasi tahun lalu, 1,8%.

Sementara kelompok negara emerging, kecuali India, justru menunjukkan arah berlawanan. Apabila pada tahun lalu rata-rata per-tumbuhan ekonomi kelompok negara emerging tercatat 4,6%, tahun ini diperkirakan hanya sebesar 4,3%. Melemahnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang sangat dipengaruhi sejumlah faktor seperti melemahnya harga dan permintaan komoditas dunia, melemahnya pertumbuhan ekonomi China, menguatnya mata uang dolar AS, dan melemahnya konsumsi domestik. Risiko pelemahan pertumbuhan ekonomi global akan semakin meningkat apabila penyesuaian suku bunga oleh The Fed benar-benar dilakukan pada tahun ini. Tanpa adanya penyesuaian suku bunga The Fed, dampak pelemahan perekonomian global mulai kita rasakan di dalam negeri.

Baru-baru ini Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 5,2% dan di bawah target APBN-P sebesar 5,6%. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit kuartal I 2015 hanya sebesar 11% dan jauh di bawah target awal 15-17%. Salah satu penyebab yang membuat target penyerapan kredit rendah adalah pelemahan konsumsi domestik. Indikator lain juga menarik kita cermati bersama di mana data dari Gaikindo yang menyebutkan realisasi penjualan kendaraan roda empat pada kuartal I 2015 turun sebesar 14- 15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Melemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor yang memicu penurunan realisasi penjualan automotif. Sejumlah laporan dan analisis juga menunjukkan perlambatan di sejumlah sektor lain seperti properti dan ritel seiring dengan perlambatan dunia usaha dan daya beli masyarakat akibat melemahnya daya beli, terbatasnya ruang ekspansi usaha di sektor mineral dan tambang, serta pelemahan harga komoditas ekspor Indonesia.

Pemerintah perlu secara komprehensif menyusun kebijakan untuk memitigasi dampak perlambatan perekonomian global. Menjaga daya beli masyarakat dan bergairahnya iklim dunia usaha perlu terus dijaga dan bahkan ditingkatkan. Upaya untuk meningkatkan target pajak sebesar 40,3% dari Rp1.058 triliun menjadi Rp1.484,6 triliun perlu tetap memperhatikan kondisi perekonomian dunia dan domestik saat ini. Pada saat ini dunia usaha di dalam negeri justru sangat membutuhkan stimulus fiskal untuk terus berkembang dan terselamatkan dari dampak perlambatan ekonomi global dan regional. Tren perlambatan perekonomian global justru perlu direspons dengan kebijakan fiskal yang produnia usaha agar lapangan pekerjaan terus tersedia, pemanfaatan potensi ekonomi menjadi optimal, total output dan produksi nasional meningkat. Pemerintah juga diharapkan dapat segera merealisasi rencana pembangunan infrastruktur yang dalam APBN-P 2015 mendapatkan porsi anggaran yang sangat besar.

Pembangunan infrastruktur juga akan dapat mendorong bergairahnya dunia usaha baik yang terkait langsung maupun tidak langsung. Kecepatan dan ketepatan (governance) penyerapan anggaran ABPN-P 2015 akan membantu perekonomian nasional untuk tetap berdaya tahan (resilience) dari perlambatan perekonomian global dan regional. Sektorsektor mulai dari jasa konstruksi, konsultan, besi dan baja, semen, produk-produk petrokimia sampai ke sektor pembiayaan dan jasa asuransi akan terdorong dengan adanya pengerjaan proyek-proyek pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Sebaliknya, keterlambatan penyerapan anggaran dan pengerjaan proyek infrastruktur berarti akan mengurangi golden opportunity kita dalam menguatkan perekonomian nasional di tengah perlambatan ekonomi global.

Mengingat pembentukan produk domestik bruto (PDB) kita mayoritas dikontribusi oleh konsumsi domestik, menjaga daya beli masyarakat perlu menjadi prioritas nasional di tengah perlambatan perekonomian dunia. Daya beli masyarakat sangat dipengaruhi ketersediaan lapangan kerja, selain juga oleh harga kebutuhan pokok. Tidak kurang terdapat 56 juta unit usaha atau 99% bentuk usaha nasional adalah sektor UMKM yang 55 juta di antaranya adalah sektor mikro. Oleh karenanya menjadi semakin penting bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk terus meningkatkan aksesibilitas keuangan, peningkatan kemampuan produksi, dan akses pasar bagi sektor UMKM. Data BPS, Januari 2014, menyebutkan bahwa sektor ini menyerap tidak kurang 107 juta orang yang terlibat secara produktif di sektor ini. Menjaga sektor ini terus berkembang akan berdampak sangat besar terhadap daya tahan perekonomian domestik di tengah turbulensi perekonomian global. Kita tentu optimistis, pengalaman melalui turbulensi perekonomian global akibat krisis subprime-mortgage di AS pada 2008 merupakan modal berharga menghadapi situasi perekonomianduniasaat ini. Meskipun sempat melemah pada 2009 sebesar 4,5%, pada 2010 ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% dan meningkat lagi menjadi 6,5% pada 2011.

Saat ini dengan percepatan pembangunan infrastruktur, jika diimbangi dengan kebijakan yang produnia usaha dan menjaga daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya tidak hanya lebih berkelanjutan, tetapi juga akan lebih berkualitas. Dengan demikian perlambatan perekonomian global akan termitigasi secara baik. Prof Firmanzah PhD Rektor Universitas Paramadina, Guru Besar FEB Universitas Indonesia Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...