Selasa, 29 Agustus 2017

ASAL NAMA "SARACEN"

Wikipedia, Saracen was a term widely used among Christian writers in Europe during the Middle Ages. The term's meaning evolved during its history. In the early centuries AD, Greek and Latin writings used this term to refer to the people who lived in desert areas in and near the Roman province of Arabia Petraea, and who were specifically distinguished as a people from others known as Arabs.[1][2] In Europe during the Early Middle Ages, the term came to be associated with tribes of Arabia as well.[3]
By the 12th century, "Saracen" had become synonymous with "Muslim" in Medieval Latin literature. Such expansion in the meaning of the term had begun centuries earlier among the Byzantine Greeks, as evidenced in documents from the 8th century.[1][4][5] In the Western languages before the 16th century, "Saracen" was commonly used to refer to Muslim Arabs, and the words "Muslim" and "Islam" were generally not used (with a few isolated exceptions).[6]

Early usage and origins[edit]


12th-century Reliquary of Saint Stanislaus in the Wawel Cathedral in Kraków is an exquisite example of Saracen art from Sicily or Palestine.
The term Saraceni might be derived from the Semitic triliteral root srq "to steal, rob, plunder", and perhaps more specifically from the noun sāriq (Arabic: سارق), pl. sariqīn (سارقين), which means "thief, marauder, plunderer".[7] Other possible Semitic roots are šrq "east" and šrkt"tribe, confederation".[8]
Ptolemy's 2nd century work, Geography, describes Sarakēnḗ (Ancient GreekΣαρακηνή) as a region in the northern Sinai Peninsula.[2] Ptolemy also mentions a people called the Sarakēnoí(Ancient Greekοἱ Σαρακηνοί) living in the northwestern Arabian Peninsula (near neighbor to the Sinai).[2] Eusebius in his Ecclesiastical history narrates an account wherein Pope Dionysius of Alexandria mentions Saracens in a letter while describing the persecution of Christians by the Roman emperor Decius: "Many were, in the Arabian mountain, enslaved by the barbarous 'sarkenoi'."[2] The Augustan History also refers to an attack by "Saraceni" on Pescennius Niger's army in Egypt in 193, but provides little information as to identifying them.[9]
Both Hippolytus of Rome and Uranius mention three distinct peoples in Arabia during the first half of the third century: the "Taeni", the "Saraceni" and the "Arabes".[2] The "Taeni", later identified with the Arab people called "Tayy", were located around Khaybar (an oasis north of Medina) and also in an area stretching up to the Euphrates. The "Saraceni" were placed north of them.[2] These Saracens, located in the northern Hejaz, were described as people with a certain military ability who were opponents of the Roman Empire and who were classified by the Romans as barbarians.[2]
The Saracens are described as forming the "equites" (heavy cavalry) from Phoenicia and Thamud.[10] In one document the defeated enemies of Diocletian's campaign in the Syrian Desert are described as Saracens. Other 4th century military reports make no mention of Arabs but refer to as 'Saracens' groups ranging as far east as Mesopotamia that were involved in battles on both the Sasanian and Roman sides.[10][11] The Saracens were named in the Roman administrative document Notitia Dignitatum—dating from the time of Theodosius I in the 4th century—as comprising distinctive units in the Roman army. They were distinguished in the document from Arabs.[10]

Medieval usage[edit]


Saracens landing on a coast, 915
Beginning no later than the early fifth century, Christian writers began to equate Saracens with Arabs. Saracens were associated with Ishmaelites (descendants of Abraham's older son Ishmael) in some strands of Jewish, Christian, and Islamic genealogical thinking. The writings of Jerome (d. 420) are the earliest known version of the claim that Ishmaelites chose to be called Saracens in order to identify with Abraham's "free" wife Sarah, rather than as Hagarenes, which would have highlighted their association with Abraham's "slave woman" Hagar.[12] This claim was popular during the Middle Ages, but derives more from Paul’s allegory in the New Testament letter to the Galatians than from historical data.[clarification needed]The name "Saracen" was not indigenous among the populations so described but was applied to them by Greco-Roman historians based on Greek place names.[13]
As the Middle Ages progressed, usage of the term in the Latin West changed, but its connotation remained negative, associated with opponents of Christianity, and its exact definition is unclear.[14] In an 8th-century polemical work, John of Damascus criticized the Saracens as followers of a false prophet and "forerunner[s] to the Antichrist."[15]
By the 12th century, Medieval Europeans had more specific conceptions of Islam and used the term "Saracen" as an ethnic and religious marker.[1][16] In some Medieval literature, Saracens—that is, Muslims—were described as black-skinned, while Christians were lighter-skinned. An example is in The King of Tars, a medieval romance.[17][18] The Song of Roland, an Old French 11th-century heroic poem, refers to the black skin of Saracens as their only exotic feature.[19]
In his Levantine Diary, covering the years 1699-1740, the Damascene writer ibn Kanan (Arabicمحمد بن كَنّان الصالحي‎‎) used the term sarkan to mean "travel on a military mission" from the Near East to parts of Southern Europe which were under Ottoman Empire rule, particularly Cyprus and Rhodes.[20]

Jadi Saracen di masa lalu diartikan sebagai kelompok orang kristen yang melakukan perlawanan dan membuat gerakan penolakan terhadap keberadaan orang-orang arab disemenanjung arab, dengan cara memutarbalikkan fakta dan memporakporandakan struktur tatanan sosial yang ada di masyarakat arab saat itu, mereka bekerja membuat banyak tulisan yang menolak bersatunya dua kelompok masyarakat yang berbeda agama, sehingga keduanya saling berseteru dan tidak mau membaur, terutama umat islam kristiani dan yahudi yang kala itu sejak awal sudah ada sejak nenek moyang mereka. Mereka menginginkan dibuatkannya pembatas yang jelas antara beda keyakinan, beda perlakuan dari masing-masing kelompok. Misi mereka adalah menolak segala bentuk pembauran umat beragama, percampuran dalam satu tatanan sosial harus dikotak-kotak dan diberi garis pembatas yang jelas.

Hal ini dibenarkan oleh Menkominfo;

Menteri Komunikasi dan InformatikaRudiantara menilai, kelompok Saracen tak cukup disebut sebagai penyebar hoaks.
Menurut dia, Saracen layak disebut sebagai penyebar kebencian dan pengadu domba.
Oleh karena itu, menurut dia, wajar jika polisi menjeratnya dengan berbagai pasal selain hoaks, tetapi juga pasal terkait SARA dan sebagainya.
Rudi mengatakan, penilaiannya ini berdasarkan konstruksi konten berita yang disebarkan oleh Saracen kepada publik di dunia maya.
“Memberikan berita palsu seolah menyerang suatu kelompok dan mengadu dengan kelompok lain. Jadi ini bukan sekadar hoaks,” ujar Rudi dalam acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV, Senin (28/8/2017) malam.

Jadi bukan karena motif ekonomi semata, memang ada unsur kesengajaan dan tujuan memecah belah bangsa. Ada organisasinya, struktur pengurusnya, dan dana dan modalnya. Kelompok ini terorganisir rapi dan tersembunyi, mereka sudah ada sejak jaman romawi dan berevolusi mengikuti perkembangan jaman, cara kerja mereka sama persis dengan leluhurnya, menyebarkan kebencian dan permusuhan di masyaraka dat agar selalu berkelahi dan bertentangan, mereka bersembunyi di balik ketiak pemilik modal raksasa untuk menciptakan permusuhan dan kegaduhan.


Minggu, 27 Agustus 2017

KEMBALINYA KEJAYAAN ISLAM DAN BANGKITNYA EKONOMI UMAT

Ramai-ramai orang bicara kembalinya masa kejayaan islam, ada banyak gerakan di masyarakat yang mulai melirik bisnis syariah dan tanpa riba bagi segenap umat muslim di tanah air. Timbulnya kesadaran dan semangat ingin meninggalkan sistem pendanaan ribawi yang sudah ada tercetus sejak mencuatnya aksi 212 beberapa waktu lalu. Timbul kesamaan visi umat yang melihat kesalahan sistem pendanaan selama ini menggunakan asas bunga dan riba dinilai lebih banyak keburukan dan maksiatnya dibanding mudaratnya bagi umat muslim sendiri. Sebagimana kita ketahui bahwa hukum riba sangat di larang dalam islam, tetapi mengapa hal itu dibiarkan. Kenapa umat muslim justru merasa nikmat menggunakan sistem riba sementara hukum syariah ada dan bisa diterapkan karena umat muslim saat ini tidak dalam keadaan tertekan atau keadaan perang.

Faktanya sistem konvensional memang layaknya duri dalam daging sudah merambah ke berbagai sektor dan bahkan sudah mendarah daging dalam tubuh kita. Ada semacam ketidakpercayaan diri ketika disodorkan mekanisme sistem syariah dan tetap memilih sistem riba, walaupun tahu sistem riba akan banyak mencelakakan dan merugikan. Semua ini disebabkan karena umat sendiri yang tidak mau berubah dan bekerja keras menolak sistem perbankan dan keuangan umum lalu menukarnya dengan sistem syariah, karena banyak alasan. Yang paling umum adalah karena kenyamanan berinvestasi yang ditawarkan sistem perbankan konvensional lebih terjamin keamanannya jika dibanding sistem bagi hasil yang diterapkan bank syariah. Sistem bank syariah dianggap masih kecil permodalannya, sedikit peminatnya, kurang lengkap fasilitas pendukungnya dan tingkat bagi hasil yang dirasa kurang menguntungkan.

Lalu kenapa harusnya kita percaya diri bahwa umat bisa menuju puncak kejayaan jika semua mau bersatu? Lihat saja bagaimana hebatnya semangat umat ini dalam hal gotong royong, ukhuah dan kebersamaan, berapa sebenarnya potensi ekonomi yang bisa digerakkan oleh umat dalam skala kecil dan menengah, beberapa kejadian yang mencuat belakangan ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa besarnya potensi dana yang terkumpul dari dana masyarakat terutama umat muslim membuka mata kita bahwa harusnya ini bisa menjadi modal awal yang cukup bikin ngeri perbankan konvensional jika saja umat beralih kepada sistem perbankan syariah. Berikut ini kami urikan rinciannya:

1. Kasus Gusti Kanjeng, Taat Pribadi, siapa yang menyangka hanya dengan modal iming-iming pat gulipat di tangan kosong, sang kanjeng bisa mengumpulkan uang ratusan hingga triliunan rupiah dari umat yang dengan sukarela menyetorkan dana pribadinya untuk digandakan. Ini artinya umat ini memiliki banyak sekali uang di kantong mereka sehingga mereka merasa perlu memperbanyak lagi walau dengan cara yang tidak wajar dan walaupun akhirnya dana mereka tidak bisa kembali. Tapi setidaknya ada rasa optimis mereka menanamkan uangnya kepada perorangan walau tidak ada jaminan uang kembali, itu artinya sebenarnya mereka percaya dan yakin ada mekanisme yang dapat melipatgandakan harta walau dengan cara ghaib sekalipun.

2. Kasus Koperasi Pandawa, berapa banyak dana yang terkumpul dari sekedar kegiatan koperasi beriming-iming bunga 10 persen per bulan, ada ribuan anggotanya yang sudah menyetorkan uang dan sudah menerima keuntungan tetapi uang pokok mereka tidak kembali. Disinyalir sang pemilik pandawa sudah mengantongi uang dengan berbagai aset yang sudah dikumpulkan. Disini kita juga melihat bagaimana masyarakat sangat tergiur dengan imbalan 10 % yang ditawarkan pemilik usaha, walau juga sama tidak ada jaminan uang kembali dan mereka sadar telah memasukkan uangnya untuk dikembangbiakkan dengan cara tidak halal (riba), tetapi satu hal adalah bahwa mereka percaya dengan janji sang pemilik Pandawa dan mereka sudah siap dengan konsekuensinya.

3. Kasus First Travel, dari total 56 ribu jamaah yang batal diberangkatkan, disinyalir uang yang terkumpul dari hasil penipuan berkedok perjalanan umroh ini triliun rupiah, ini bukan jumlah uang sedikit. Uang ini digelapkan dan disalurkan ke hal-hal yang tidak jelas penggunaannya bahkan dipakai untuk kepentingan pribadi sang pemilik. Berapa banyak umat yang tertipu dengan iming-iming paket harga murah dan mereka menganggap harga miring itu tidak akan merugikan mereka dan tetap merasa yakin mereka akan diberangkatkan, walaupun sang pemilik kini sudah berada di dalam penjara. Miris sekali melihat perilaku umat saat ini, mereka terlalu yakin pada hal-hal fiktif yang disodorkan para penipu.

Dari tiga kasus ini dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya kebanyakan umat muslim dinegeri ini terlalu mudah diperdaya oleh iming-iming penipu berkedok agama. Umat kita terlalu mudah dikelabui dan dijanjikan banyak hal bisa jadi karena selama ini mendapatkan uang dengan sistem riba dan akhirnya uang yang mereka dapatkan pun lenyap dalam sekejap mata akibat pola pokir ribawi dan mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu secepat-cepatnya dari cara-cara tidak wajar yang disodorkan para penipu pencari kekayaan dan kesenangan duniawi. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan

Padahal dalam agama yang mereka anut dan di yakini Islam, sudah tertera sangat jelas bahwa bagi siapa saja yang ingin beruntung maka sebaiknya ia melakukan perdagangan dan jual beli dengan Allah swt dengan cara yang baik. Lakukanlah transaksi yang benar, berbuat baik akan diganjar 10 kali keebaikan. Bayaran yang Allah tawarkan bukan dalam kerangka kesepakatan kerja majikan-buruh, karena biasanya buruh digaji lebih kecil daripada jerih payahnya. Yang Allah tawarkan dalam al-Qur`an adalah kerangka kesepakatan bisnis, berupa pinjam-meminjam dengan bunga pinjaman yang berlipat ganda serta jual-beli dengan nilai tukar yang sangat tidak sebanding; ibarat meminjam seekor nyamuk lalu mengembalikan dalam bentuk seekor kuda atau membeli seekor lalat dengan bayaran seekor unta. Berikut ini transaksi pinjam meminjam yang Allah tawarkan:

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ 
(QS: At-Taghabun [64]:17).

Dan hal transaksi seperti inilah yang sebaiknya dilakukan oleh banyak umat muslim, menyalurkan hartanya yang berlebih untuk berjuan di jalan Allah swt. Harta yang ada di dunia ini diberikan Allah swt bukan untuk digunakan berfoya-foya dan bermegah-megah, melainkan untuk ditransfer ke akhirat dalam bentuk amal shalih.

LALU BAGAIMANA CARA MEMBANGKITKAN EKONOMI UMAT?
Lakukanlah perdagangan dengan tidak menggunakan hukum riba melainkan hukum syariah. Sebagaimana yang terjadi belakangan ini diberbagai daerah dibentuknya Koperasi Syariah Amanah Muttaqien Pekayon dan Dewan Keluarga Masjid (DKM) dan Mushola Pekayon, mereka mengoperasikan 212 Mart yakni mini market Islami besutan Koperasi Syariah 212 (KS 212). Mini market 212 ini didirikan oleh 180 anggota Koperasi Syariah Amanah Muttaqien Pekayon, ada sekitar 12 orang yang menjadi konsorsium membeli Indomaret seharga Rp 1,1 miliar. Semangat seperti ini harus didukung dan dikembangkan, jangan lagi kita menunggu campur tangan penguasa di dalamnya, gerakkan sendiri oleh umat untuk umat.

Ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan kejayaan umat yang kini sudah seharusnya lepas dari jerat bunga dan riba. Harus sudah dimulai dari umat sendiri, kesadaran untuk mengambil alih kendali ekonomi di tangan muslim, jangan lagi mau dijajah oleh kaum kapitalis yang menjerat setiap nasabahnya untuk terus berhutang hingga tidak tersisa sedikitpun harta mereka kecuali iman yang sedikit. Tolonglah saudara kita yang kesusahan, bantulah mereka keluar dari masalah ekonomi yang sudah sangat kronis ini. Jangan lagi bicara suku, kelompok dan keuntungan materi, bicaralah kesamaan visi, kejayaan islam, kemenangan akhir. Bahkan Rasulullah saw saja sudah menjadi pengusaha di usia belia, ia melakukan perdagangan di berbagai penjuru wilayah menawarkan barang dagangannya dengan santun dan lemah lembut. Kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama seperti halnya rasulullah saw contohkan. Masih banyak yang harus dibenahi di negara ini, yang dibutuhkan hanya keberanian dan keyakinan bahwa Allah swt akan selalu ada bersama kita.

source
http://www.berita.islamedia.id/2017/08/212-mart-berhasil-ambil-minimarket-indomaret-di-bekasi.html

Rabu, 23 Agustus 2017

SOSOK ASLI "DEWA ZEUS" DALAM ISLAM

Kalau Nonton Film-film kolosal Holywood yang bersetingg masa lalu, sering kali kita menyaksikan kehadiran Dewa-Dewi sebagai sosok yang di agungkan dan diberi gelar sempurna di hadapan para pengikutnya dan rakyatnya, sebut saja Film, Thor, Herkules, Zina, Wonder Woman, dan sebagainya. Segala kekuatan dan kekuasaan sang dewa dewi ditunjukkan bagaikan sang dewa ini setara dengan Tuhan yang jadi sesembahan manusia di masa lalu. Zeus ditampilkan sebagai raja yang berkuasa dan memiiki anak dan istri sebagaimana manusia pada umumnya, tetapi mereka menempati singgasana di awan sana dan mengendalikan perputaran bumi dan langit. Walau dalam kisah disebutkan perannya sebagai dewa, tetapi kekuasaannya melebihi kemampuan manusia super atau setara dengan Tuhan. 

Sebagian orang menganggap ini hanya tokoh buatan dan dongeng dan tidak ada di dunia nyata, tetapi sebagian lainnya beranggapan bahwa ini bukan sekedar mitos, karena ada jejak sejarah dan peninggalanya di beberapa negara yaitu Italia. Lalu siapa sebenarnya sosok asli para dewa-dewi ini dalam kaca mata islam? Benarkah ada segolongan manusia yang hidup dan berkembang biak di atas pegunungan Olympus dan mereka diberikan kekuatan mengendalikan alam semesta ini? Berikut ini kami uraikan yang sebenarnya...

SEPENGGEAL SKANDAL RAJA ZEUS

Zeus adalah raja para dewa dalam mitologi Yunani Dalam Theogonia karya Hesiodos, Zeus disebut sebagai "Ayah para Dewa dan manusia". Zeus tinggal di Gunung Olimpus. Zeus adalah dewa langit dan petir. Simbolnya adalah petir, elang, banteng, dan pohon ek. Zeus sering digambarkan oleh seniman Yunani dalam posisi berdiri dengan tangan memegang petir atau duduk di tahtanya. Zeus juga dikenal di Romawi Kuno dan India kuno. Dalam bahasa Latin disebut Iopiter sedangkan dalam bahasa Sansekerta disebut Dyaus-pita. Zeus adalah anak dari Kronos dan Rea, dan merupakan yang termuda di antara saudara-saudaranya. Zeus menikah dengan adik perempuannya, Hera yang menjadi dewi penikahan. Zeus terkenal karena hubungannya dengan banyak wanita dan memiliki banyak anak. Anak-anaknya antara lain Athena, Apollo dan Artemis, Hermes, Ares, Hebe, Hefaistos, Persefon, Dionisos, Perseus, Herakles, Helene, Minos, dan Mousai.

Zeus juga berhubungan dengan Leto tidak lama setelah menikah dengan Hera. Ada banyak anak yang di hasilkan Zeus dari hubungan gelapnya bersama banyak wanita, dan anak-anak itulah yang kini mengisi bumi di benua amerika, eropa, berkulit putih, tinggi, hidung mancung, mata biru dan berperawakan besar dan gagah. Zeus inilah nenek moyang mereka, mereka adalah hasil perkawinan dewa dan manusia.
Zeus membagi dunia menjadi tiga dan membagi dunia-dunia tersebut dengan kedua saudaranya, Poseidon yang menjadi dewa penguasa lautan, dan Hades yang menjadi dewa penguasa dunia bawah (alam kematian).

DEFINISI ARTI KATA


Wikipedia, Iblis (Arab: إبليس‎, iblīs) adalah julukan nenek moyang bangsa jin[1][2][3] yang memiliki nama asli Azazil, ia makhluk pertama yang membangkang perintah Allah swt untuk bersujud didepan Adam dan tokoh ini dikenal dalam ajaran agama samawi.

Setelah iblis membangkang dan tidak mau melaksanakan perintah Allah swt yaitu bersujud kepada nabi Adam bersama-sama malaikat, lalu allah swt mengusir sekaligus mengeluarkanya iblis dari syurga, Sesungguhnya sebelum iblis dikeluarkan dari syurga iblis mengajukan permintaan kepada Allah swt agar dia dan semua keturunanya diberikan umur yang panjang (tidak mati) sampai datangnya hari kiamat (pada tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat). Dan akhirnya ia diberikan tangguh.

Dalam hadits Shahih Muslim, dikatakan bahwa Iblis sekarang berada ditengah lautan (air)[5][6] yang dikelilingi oleh beberapa ular. Dari sanalah ia mengendalikan seluruh aktivitas penyesatan terhadap umat manusia. Markas besar iblis berada di tengah-tengah samudera, mereka memilih lautan karena luasnya yang mencapai tiga perempat dari luas bumi. Iblis membangunnya kerajaannya di laut dengan tujuan untuk menandingi Arasy (singgasana) Allah yang berada di atas air di langit ke tujuh. Dalam mithologi Yunani, Iblis ini mewaakili dewa Osiris.

Jin merupakan salah satu makhluk Allah yang diciptakan dari api. Jin ini merupakan makhluk gaib yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia tapi bisa menampakkan diri dalam berbagai wujud pada manusia.

AGAMA KAUM PAGAN


Kepercayaan pagan mempercayai bahwa Dewa-dewa tinggal di gunung dan lautan. Dewa-dewa itu sebenarnya adalah bangsa Jin. Karena pengetahuan Islam percaya bahwa ada banyak Jin tinggal di gunung-gunung yang tinggi dan juga lautan.

Dalam kepercayaan Yunani dikenal Dewa Zeus yang tinggal di gunung Olympus dan juga Dewa Posaidon yang tinggal di lautan. Mereka itu sebenarnya adalah golongan Jin. Ayah Zeus yaitu Cronos merupakan bagian dari kelompok Iblis Azazil, yaitu kelompok bangsa jin yang terusir dari Syurga, mereka memilih menempati bumi sebagai tempat tinggalnya karena mereka yang ditugaskan sang pemimpin untuk menyesatkan manusia terutama para keturunan Nabi Adam as. Para mahluk halus yang merupakan jelmaan iblis ini menjelma menjadi sosok dewa dan dewi yang memiliki kekuatan super dan bisa berubah wujud sesuka hati mereka.

Jin disebutkan dapat merubah bentuknya menjadi berbagai macam bentuk dan mereka dapat menipu manusia menjadi Dewa dan dewi. Jin membutuhkan makan, tidur dan juga dapat berkembang biak. Jin juga dapat masuk ke berbagai benda seperti ke berhala dan benda-benda keramat lainnya. Jin juga dapat merasuki manusia. Jin memiliki kemampuan untuk mendatangkan kekayaan karena mereka memiliki pengetahuan untuk menambang berbagai logam mulia di dalam bumi bahkan bangsa Jin memiliki kemampuan untuk terbang ke langit untuk mencuri rahasia langit sehingga mereka dapat meramal masa depan.

Jin ada yang baik yang suka menolong manusia tapi ada juga yang jahat. Salah satu ciri Jin adalah kesukaan mereka terhadap asap kemenyan atau asap dupa. Jika ada dewa yang menyukai hal tersebut mungkin adalah dewa itu sebenarnya adalah Jin yang merubah dirinya menjadi sosok yang disenangi manusia, halus, lembut dan perkasa. Sebagaimana para dewa yang disembah penganut agama pagan Hindu dan Budha di China atau Agama Majusi penyembah api yang di anut penduduk Mesir dan atau Agama Sinto yang dianut penduduk Jepang. Kesemua agama itu mempercayai kekuasaan banyak dewa dan dewi. Konsep kepercayaan agama pagan ini bertumpu pada kekuasaan yang tersebar para dewa. Ada dewa angin, Api, Air, Cuaca dan sebagainya. Bahkan ada yang percaya bahwa tubuh mereka bisa dimasuki dewa padahal sebenarnya mereka dirasuki oleh Jin. Kepercayaan pagan ini berkembang sejalan dengan kebutuhan para pemeluknya, .

Banyak sifat Jin lainnya yang dapat kita ketahui sehingga apabila kita menemui dewa yang memiliki sifat serupa dengan Jin maka kita bisa yakin bahwa dewa itu sebenarnya adalah bangsa Jin yang menyamar
menjadi dewa. Syetan dan Iblis juga merupakan golongan Jin yang sering menipu manusia agar menyembah mereka. Jin ini akan mengabulkan apa saja keinginan pengikutnya, selama jin ini selalu dipuja dan disembah, dibuatkan kuil dan tempat memuja, maka jin ini akan mengabulkan permintaan penyembahnya sesuai harapan sang pengharap dan sang pemuja.

Jadi jika kita simpulkan disini adalah bahwa para pembuat film kolosal holywood ini ingin mengajak penontonya mengenal sosok Tuhan yang mereka sembah atau memperkuat lagi konsep ketuhanan dibawah kendali banyak dewa sebagaimana yang sudah mereka yakini selama ini. Tapi dalam islam konsep banyak dewa/tuhan ini tidak ada, Islam hanya mengenal satu Tuhan dan satu utusan. Dan jika ditelusuri garis keturunan para dewa ini, mereka adalah satu garus keturunan dengan iblis Azazil yang membangkang perintah Allah swt lalu di usir dari syurga dan ia mendapat penangguhan hingga datang hari kiamat. Atau dengan kata lain, para pemilik modal dan pembuat film ini, mereka adalah para penganut agama pagan yang dalam sejarah mytologynya mereka mewujudkan Tokoh Zeus yang dimaksud itu sebenarnya adalah Iblis Laknatullah yang kelak di akhir jaman akan dibangkitkan kembali dan ia sebenarnya adalah Ad Dajjal. Sang Nabi palsu/mesiah yang akan menjelma menjadi juru selamat, padahal sesungguhnya ia adalah pembawa kehancuran.

Inilah tujuan yang ingin disampaikan berbagai tayangan bergenre kolosal dan settingan masa lalu, mereka ingin mengajak semua orang untuk menerima tuhan dan pemimpin penganut agama pagan, Sang Dewa Agung Zeus beserta kroninya, yang diagung agungkan, dan dipuja puji karena kebijaksanaannya. Zeus inilah nenek moyang mereka, mereka (bangsa barat) adalah hasil perkawinan bangsa jin dan manusia. Dan nenek moyangnya ini kelak di akhir jaman akan dibangkitkan. Raja-raja pembangkang ini akan kembali dibangkitkan untuk membantu sang Dajjal berkuasa. Agama pagan yang ditampilkan dalam film berdana besar ini untuk mengajak masyarakat umum mengenal siapa itu Tuhan versi barat, itulah para dewa dan dewi dari mytologi Yunani Kuno. 

Senin, 21 Agustus 2017

"DAYA BELI MENJERIT" KARENA UMAT DITEKAN

Akhir-akhir ini, ramai berita paniknya tim ekonomi Jokowi diserang berbagai media dengan isu melemahnya kondisi ekonomi karena turunnya daya beli masyarakat. Semua ahli ekonomi bicara penurunan daya beli pasar, ekonomi yang menunjukkan trend penurunan ini disebabkan karena daya beli masyarakat melemah. Berbagai teori ekonomi digulirkan untuk mengatasi masalah ini, tapi tidak membawa perubahan. Semua isu miring ini berujung pada polemik bahwa tim ekonomi jokowi tidak mampu mengatasi masalah ini dengan cepat. Jika kondisi ini terus berlanjut, bisa berpengaruh pada citra pemerintahan. Pemerintah Jokowi dianggap tidak bisa mengendalikan situasi dan menenangkan rakyatnya, sehingga semua itu berimbas pada tingkat kepercayaan masyarakat.

Semua pakar berasumsi bahwa ekonomi yang cenderung turun atau stagnan saat ini disebabkan karena tidak adanya kemampuan ekonomi masyarakat membelanjakan uangnya sebagaimana sebelumnya. Selain itu, para pengusaha skala besar, pengusaha ritel dan menengah juga membenarkan pernyataan itu, hasil penjualan barang konsumsi periode ini mengalami penurunan di banding tahun-tahun sebelumnya. Mereka mengeluhkan adanya perubahan pola konsumsi masyakat yang cenderung lebih memilih menahan minat belanjanya dialihkan pada menabung di bank atau menginvestasikan ke instrumen lain.

Benarkah anggapan itu? benarkan masyarakat tidak punya kemampuan finansial sehingga mengakibatkan kondisi ekonomi kita terhenti? Apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita? kenapa mereka memilih diam dan bersikap menunggu?

Para ekonom memang membaca trend ini dari berbagai hasil laporan keuangan, jurnal dan data statistik yang menunjukkan banyaknya penurunan income di berbagai sektor dan pasar saham karena data menunjukkan rendahnya daya beli masyarakat. Terlihat dalam laporan keuangan bahwa adanya kecenderungan masyarakat memilih mencari alternatif berbeda dari sebelumnya. Masyarakat cenderung bersikap menunggu dan tidak mengambil resiko untuk membelanjakan uangnya sebagaimana biasanya. Mereka lebih memilih ingin melihat situasi ke depan, apa saja kebijakan yang akan diterapkan dan bagaimana pasar merespon kebijakan itu. Tapi dibalik semua itu, ada banyak hal yang tidak dibaca oleh para ahli ekonomi ini, bahwa semua ini berkaitan dengan sentimen politik yang tidak stabil di negara ini, mempengaruhi cara pandang masyarakat kepada pemimpinnya dan mempengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan.

SEMUA DIMULAI DARI KASUS AHOK
Semua kondisi ini dimulai ketika kasus penistaan agama oleh Ir. BAsuki Cahaya Purnama alias Ahok bergulir. Masyarakat melihat sikap keberpihakan pemerintah yang sangat kental banyak mengintervensi kasus hukum Ahok di meja hijau. Mulai dari sikap pemerintah yang tidak menangkap dan menahan, membiarkannya tetap menjabat, hingga menggelar pengadilan secara tertutup dan sebagainya. Walau pada akhirnya Ahok diputus bersalah dan diganjar 2 tahun penjara. Tapi hal ini tidak menyurutkan animo masyarakat yang beranggapan bahwa pemerintah tidak berpihak pada mayoritas muslim, sentimen negatif ini yang terbangun di masyarakat kita. DItambah lagi ketika pemerintah baru-baru ini mengeluarkan perpu anti ormas, yang melarang organisasi masyarakat berbasis islam dilarang beroperasi karena dianggap bertentangan dengan ideologi bangsa. Bertambahlah stigma negatif terhadap pemerintah berimbas pada sektor ekonomi.

Pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap menegaskan, upaya Joko Widodo (Jokowi) mendekati umat Islam agar memperoleh suara pada Pilpres 2019 mendatag tidak akan efektif. Pasalnya, saat ini sudah terbentuk persepsi dan sikap politik umat Islam terhadap negatif. Apalagi dengan sikap Jokowi yang seperti tidak melindungi umat Islam.

"Beliau (Jokowi) dinilai bersikap anti umat Islam. Hal ini semakin dipercaya setelah Jokowi menerbitkan Perppu Ormas dan membubarkan tanpa pengadilan Ormas Islam Hitzbut Tahrir Indonesia (HTI),"
 kata Muchtar Effendi Harahap kepada Harian Terbit, Selasa (1/8/2017).

Padahal ekonomi bangsa ini terdiri dari pengusaha muslim dalam jumlah besar populasinya diberbagai daerah, mereka menguasai berbagai sektor ekonomi lokal yang jumlahnya sangat besar, memiliki banyak pengaruh dimasyarakat dan memiliki sikap yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah belakangan ini. Para pengusaha muslim ini mengamati kebijakan pemerintah yang senantiasa beseberangan dengan kepentingan umat muslim. Para pengusaha ini menganggap penting kejelasan sikap pemerintah dalam perpolitikan negara, apakah pemerintah berada di pihak muslim atau berada di pihak lain. Ketidak jelasan ini yang sedang ditunggu kebanyakan umat muslim, dan hingga kini kita belum melihat adanya titik terang.

Walaupun diawal, disebutkan bahwa ekonomi bangsa ini dipengaruhi oleh cukong, konglomerat dan pengusaha taipan, tetapi semua itu tidak ada artinya jika mayoritas umat muslim tidak mendukung kebijakan pemerintah. Tidak bisa dipungkiri, di negeri ini Ada 80 persen umat muslim yang menguasai ekonomi. Lalu berapa besar ekonomi yang didorong kelompok taipan jika dibandingkan ekonomi yang dibangkitkan umat muslim secara keseluruhan. Jika para pemilik modal muslim mengajak pengikutnya untuk tidak memberikan angin segar kepada pemerintah untuk menyambut gembira berbagai kebijakan yang digulirkan, maka tetap saja ekonomi jalan ditempat, tidak ada pertumbuhan.

Suka atau tidak pemerintah harusnya bisa melihat bahwa ekonomi bangsa ini hanya bisa digerakkan oleh rasa persatuan dan kesatuan umat muslim, nyatanya kebanyakan uang memang dipegang oleh umat muslim dalam banyak bentuk. Angka ini bisa ditelusuri dari meningkatkan jumlah uang mengendap di bank dalam bentuk tabungan masyarakat menengah yang nilainya mencapai Rp. 500 triliun. Ini artinya sebenarnya masyarakat tidak terjadi penurunan daya beli tetapi Masyarakat memilih menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya, karena ingin melihat situasi yang berkembang.

Kondisi ini juga bisa kita lihat ketika Hari Raya Idul Fitri lalu, trend pertumbuhan ekonomi di masa lebaran tidak mampu mendongkrat angka pertumbuhan. Di tahun lalu 2016, trend seperti sama sekali tidak terjadi, pertumbuhan bisa tumbuh karena terjadi pergerakan uang diberbagai daerah oleh muslim yang merayakan lebaran, terjadi perputaran ekonomi besar-besaran. Tapi di tahun 2017, sejak kondisi politik semakin memanas dan menunjukkan ketidakjelasan keberpihakan pemerintah, trendnya makin menujukkan penurunan. Semakin pemerintah menekan gerak umat muslim dengan kebijakannya, maka ekonomi akan makin tertekan. Kita lihat saja bagaimana pemerintah belakangan ini semakin sering menunjukan sikap arogan dan berseberangan dengan umat muslim dan ini semakin trend ekonomi menurun. misalnya beredar isu bahwa pemerintah akan membubarkan FPI (Front pembela Islam) dalam waktu dekat. Isu ini makin memunculkan kemarahan masyarakat dengan sikap makin menolak arogansi serta menamakan pemerintah jokowi bertangan besi dan disejajarkan dengan rezim diktator.

Masyarkat makin antipati lagi sejak beredarnya isu meningkatnya hutang negara. Sejak beredarnya berita meningkatnya utang luar negeri ini, makin buruk citra pemerintah Jokowi dan ini mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat kepada situasi ekonomi dan politik. Semakin gencarnya pemberlakukan pajak dan pemotongan subsidi rakyat kecil, atau yang baru ini, penggunaan dana haji untuk investasi. Ditambah lagi ketidakmampuan pemerintah mengatasi berbagai stok kebutuhan domestik seperti harus mengimpor garam dari negara tetangga Australia. Pemerintah dianggap tidak mampu menjaga stabilitas ekonomi karena kerja para pembantunya juga kurang menujukkan hasil signifikan. Pemerintah dianggap gagal memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Semua ini juga disebabkan karena pemerintah tidak peka terhadap kondisi yang ada dimasyarakat. Dan nampkanya pemerintah kini tidak menyadari bahwa pergerakan umat saat ini tidak bisa didikte sebagaimana yang terjadi di masa lalu. Kini masyarakat punya media penyeimbang yang bisa mengajarkan mereka bagaimana harus bersikap karena mereka punya media sosial yang bisa menentukan sikap mereka ingin dibawa kemana. Lihatlah bagaimana besarnya peran media sosial dalam kehidupan mereka sehari-hari, itulah yang tidak bisa dikendalikan pemerintah yang ingin menguasai bangsa ini. Media sosial sudah menjadi nara sumber mereka dalam bersikap dan berperilaku, bahkan banyak negara adidayapun tidak berdaya menghadapi komponen yang satu ini.

Masyarakat saat ini benar-benar ingin menujukkan peran sertanya dalam perpolitikan. Maskayarakat walaupun mereka tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, tetapi mereka melihat ketidakberpihakan penguasa pada kepentingan mereka, maka mereka bisa bereaksi terhadap kondisi ekonomi makro. Hanya sedikit saja perubahan sikap dan cara berpikir, bisa memutarbalikkan angka pertumbuhan ekoomi, apalagi jika sampai mereka memblokade secara masif, seperti yang trend baru yang terjadi belakangan ini, tumbuhnya gerakan ekonomi oleh mantan gerakan aksi damai 212. Ketika muslim memilih jalan menahan diri, maka pemerintah akan tertekan.

Para pengikut aksi damai 212 belakangan ini menyuarakan akan menggerakkan ekonomi umat islam dengan mendirikan berbagai lembaga keuangan syariah dan anti riba yang akan disebarkan ke berbagai daerah di luar jawa. Mulai dari mendirikan bank, koperasi, mini market, sekolah, lembaga simpan pinjam dan sebagainya yang berbasis syariah. Walau banyak pihak yang meragukan keberhasilannya, tetapi sebaiknya jangan ada yang merasa tidak percaya bahwa jika ini ternyata berhasil, maka pemerintah akan kewalahan dengan keadaan ini. Karena sekali lagi harus kita sadari bahwa saat ini pelaku ekonomi yang paling besar adalah umat muslim dan rasa persatuan ukhuah mereka jangan diragukan lagi. Bukan hanya akan meningkatkan perekonomian, bahkan gerakan ini bisa membentuk pemerintahan baru di negara ini yaitu negara khilafah yang dikomandani oleh para pengusaha muslim. Jangaan anggap remeh, jika seluruh umat muslim sudah bersatu, jangankan hanya masalah ekonomi, seluruh bidangpun akan bergerak maju.

Maka dari itu, pemerintah harus memiliki sikap yang jelas terhadap umat yang jumlahnya ratusan juta jiwa ini. Apakah pemerintah ingin berada didalam satu barisan atau berada di luar barisan, yang pasti saat ini umat sudah menentukan pilihan mereka, bahwa umat ingin dipimpin oleh pemimpin yang melindungi kepentingan mereka, jika tidak maka di pemilihan presiden berikutnya, silahkan untuk tidak mencalonkan diri lagi, karena sudah diputuskan pemerintah saat ini tidak mau satu barisan dengan umat. Maka umat akan memberikan kesempatan pada kandidat lain yang satu visi. Jadi saat ini adalah waktu yang tepat bagi pemerintahan jokowi untuk mengkoreksi diri dan menentukan sikap, dipihak mana mereka ingin berdiri.

Minggu, 13 Agustus 2017

OMG,GEN MILENIALS GAK BISA NABUNG DAN PUNYA RUMAH?

Menabung adalah kegiatan menyisihkan pendapatan/uang saku di tempat yang aman dengan jumlah tergantung kemampuan kita, untuk keperluan mendesak, untuk tujuan tertentu dan untuk keperluan dimasa depan. Menabung bertujuan untuk melatih kita lebih bijak dalam menggunakan uang.

Menurut hasil studi terbaru, muda-mudi usia di bawah 35 tahun masa kini, atau yang disebut generasi milenial, adalah orang-orang yang tidak bisa menabung. Studi yang dilakukan oleh Moody’s Analytics itu menunjukkan tingkat menabung orang-orang usia tersebut menurun hingga negatif 2%. Artinya, mereka menghabiskan lebih banyak uang dari yang mereka hasilkan.

Seperti dilansir dari situs CNN.com pada Jumat (31/7/2015), kelompok generasi ini adalah yang satu-satunya memiliki tingkat tabungan negatif. Sebagai perbandingan, pekerja dengan usia antara 35 sampai 44 tahun memiliki tingkat tabungan positif, yaitu 3%. Atau dengan kata lain generasi ini adalah generasi miskin secara finansial.

Lalu kenapa dikatakan Gen Milenial tidak bisa menabung? karena konsep menabung atau menyisihkan sebagian uang kurang tertanam dalam diri mereka, mereka cenderung suka meng-gampangkan segala urusan, suka menganggap remeh hal-hal kecil, sehingga menabung dianggap sesuatu yang menyulitkan. Menabung bisa menghambat aktivitas mereka mengeksplorasi diri. Karena bagaimanapun, untuk mengetahui minat seseorang dibutuhkan banyak uji coba dan eksperimen sehingga butuh banyak biaya untuk mendapatkan hasil terbaik.

Sehingga timbul dalam benak mereka, bahwa kesulitan atau keterbatasan adalah sesuatu yang menghambat dan menghalangi, dan menabung adalah bagian dari keterbatasan. Menabungg bisa menghambat ruang gerak. Tapi bukan berarti mereka tidak punya keinginan untuk memiliki tabungan, hanya saja penghasilan mereka terbatas dan sudah terlanjur habis untuk berbagai keperluan eksistensi diri tadi.

Faktanya semakin maju jaman, semakin banyak juga yang ditawarkan dan semakin banyak yang harus dibeli, mulai dari aksesoris gadget, pernak-pernik rumah tangga, keinginan liburan, rekreasi, makan di restoran, dan sebagainya. Dunia ini semakin hari semakin banyak menawarkan hal-hal yang belum pernah dicoba dan sebagian generasi milenial merasa perlu untuk mencoba hal-hal baru. Kembali lagi ke konsep awal, mencari jati diri. Dalam hal ini, biaya yang harus mereka sisihkan pun tidak sedikit.

Ada sebagian juga yang mengaggap menabung sama dengan membatasi ruang lingkup, keinginan, hasrat, gengsi, dan sebagainya, sementara aktivitas mereka menuntut banyak ketersediaan dana. Pergi keluar rumah sudah pasti akan mengeluarkan banyak biaya, ini itu yang tidak perlu, terpaksa dibeli karena tuntutan eksistensi. Pakaian, gadget, makan, kendaraan, penampilan, perawatan dan sebagainya, dimana seseorang baru merasakan diri mereka percaya diri jika sudah memiliki berbagai fasilitas penunjang yang boleh dikatakan canggih. Maka budget yang harus mereka siapkanpun lumayan banyak, bahkan ada yang sampai membobol tabungan.

Belum lagi tagihan yang harus dibayar, telefon, listrik, pulsa/kuota handphone, pajak penghasilan, kartu kredit, cicilan kendaraan, sekolah anak, sewa rumah/apartemen dan sebagainya yang mau tidak mau harus dibayar mengingat itu semua berkaitan langsung dengan kehidupan ke depan. Total biaya yang harus mereka keluarkan untuk membayar semua ini kadang sudah menghabiskan sebagian penghasilan mereka dalam sebulan. Belum lagi keperluan makan sehari-hari yang variasinyapun sangat banyak dan harganya lumayan mahal. Jadi bagaimana caranya mereka bisa menabung sementara ongkos biaya hidup saat ini memang sudah selangit.

Bukan tidak ada keinginan, hanya saja terkadang kebanyakan anak milenial tidak bisa menolak berbagai tawaran yang ada dihadapannya, dengan berbagai potongan harga dan hal-hal menarik lainnya. Belum lagi promo yang ditawakan toko online, ini adalah sesuatu yang sulit ditolak. Kadang mereka menanggap perlu membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, karena ada banyak kemungkinan suatu saat akan digunakan. Atau mereka perlu menambah frekwensi jalan-jalan karena merasa frustasi dengan rutinitas sehari-hari. Atau hal-hal lain yang sebenarnya tidak terlalu perlu tetapi menjadi penting jika melihat dari sisi lain.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Bankrate.com menyebutkan kalau generasi milenial kini menjadi korban. Mereka menghabiskan uang makan lebih besar di luar rumah. Apalagi dengan populernya layanan pesanan online sehingga membuat pemesanan makanan lebih mudah dari sebelumnya. Survei itu juga menyebutkan kalau 29 persen generasi milenial membeli kopi setidaknya tiga kali setiap minggu. Sisanya 51 persen pergi ke bar seminggu sekali, dan 54 persen makan di luar setidaknya tiga kali seminggu dan lebih.

Jadi sebenarnya tidak ada hal berlebihan yang dihadapi generasi milenial, karena sebenarnya mereka hanya mengikuti perkembangan jaman dan menikmati apa yang ditawarkan dunia kepada mereka. Hanya saja titik kesalahan mereka adalah mereka tidak bisa menentukan skala prioritas dan tidak bisa menahan godaan belanja dan gaya hidup serta kondisi perekonomian yang makin lama yang makin sempit tidak sesuai perkembangan jaman ini yang menjadi penghambat mereka yang ingin berkembang. Menabung adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri di masa depan, hal itu tidak bisa dilakukan karena dana yang ada terbatas.

Jadi sebenarnya ini bukan semata-mata karena anak milenial tidak mau menabung, tetapi karena mereka kadang tidak bisa menentukan skala prioritas dalam urusan belanja dan masa depan. Mereka faham bahwa dengan menabung bisa menyelamatkan ekonomi di masa sulit, tetapi apa boleh buat merekapun harus tetap eksis untuk menjalani hidup hari ini. Mereka harus mengeluarkan banyak biaya untuk bayar ini itu, sementara penghasilan mereka tidak naik-naik. Dilema dialami kebanyakan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi saat ini dan akhirnya pasrah saja pada keadaan.

Survey yang dilakukan banyak lembaga itu memang benar adanya, tetapi kitapun sebaiknya tidak menampik fakta bahwa sektor ekonomi yang tidak menunjukkan peningkatan juga bisa menjadi penyebab semakin sulitnya orang mempersiapkan masa depan mereka. Saat ini menabung sudah bisa dibilang menjadi aktivitas yang sulit dilakukan, disamping karena kebanyakan orang tidak punya penghasilan tetap, penghasilan terbatas, atau penghasilan yang terus menurun.

Menabung walau bagaimanapun kerasnya orang berusaha, tetap saja pada akhirnya mereka tidak berdaya ketika berhadapan dengan situasi pilihan sulit. Menabung bukan tidak bisa dilakukan oleh kaum milenial, mereka pastilah berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya agar tetap bisa memiliki cadangan uang di kas mereka, tetapi ada banyak hal yang tidak bisa dihindari dalam kurun waktu ke depan. Masih ada banyak kemungkinan tidak terduga yang juga harus mereka pertimbangkan. Keadaan darurat dan tidak terduga kadang mengganggu niat menabung.

Lalu bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dialami generasi milenial ini? Bagaimana caranya agar mereka terbiasa menabung.
Mau tidak mau setiap orang harus menyisikan penghasilannya secara tegas, terapkan sikap hidup yang keras, bagaimanapun caranya harus ada uang yang bisa disimpan. SIkap keras ini terutama dalam hal kemampuan menentukan skala prioritas yang paling utama. Biasakan menentukan kebutuhan yang paling darurat dan penting, sementara kebutuhan yang sifatnya komplementer atau hiburan dikurangi. Komplementer misalnya suatu barang yang masih bisa dipakai tetapi rusak sebaiknya diperbaiki, jangan membeli yang baru. Kebutuhan hiburan misalnya makan di restoran, jika sebelumnya seminggu sekali, maka mulai terapkan sebulan sekali. DAn sebagainya, dengan cara mulai melihat sesuatu dari fungsinya daripada penampilannya, melihat sesuatu dari kegunaannya bukan gengsinya. Cara melihat suatu kebutuhan mulai dipersempit menjadi sesuatu yang banyak manfaat dan kegunaan. Dengan begitu akan terbiasa hidup cukup dan tidak berlebih-lebihan menilai sesuatu. Camkan dalam diri bahwa uang yang ditabung jauh lebih bermanfaat daripada dibelanjakan untuk barang yang tidak perlu. Masa depan anak-anak jauh lebih penting dibanding menunjukkan gengsi. Perlahan-lahan sikap hidup seperti ini akan menjadikan kita pribadi yang hemat, teliti, dan cermat.

Karena pada prinsipnya, semua orang sukses di kehidupan saat ini pun mereka memulainya dengan sikap hidup prihatin dan cermat. Mereka semua sangat teliti menggunakan uang dan tidak mudah terbawa pengaruh pergaulan dan gaya hidup. Contohnya saja sang pendiri Facebook, Marck Zukerberg, milioner ini memulai karirnya dari seorang mahasiswa sederhana dan kini walau hartanya triliunan ia tetap menerapkan hidup hemat bersama istrinya. Masih tinggal di rumah kecil mungil dan menggunakan kendaraan tua. Gaya pakaiannyapun tidak layaknya milioner menggunakan jas dan sepatu merk, ia tetap seperti anak muda pada umumnya, menggunakan T-shirt dan kemeja serta sepatu kets trendi. Dan lihatlah bagaimana orang memperlakukannya dengan hormat dan respek. Yang terpenting bagi Marck bukanlah penampilan, tetapi apa yang ada dalam otak dan kemampuannyalah yang paling utama. Bahkan dengan harta yang melimpahnya itupun sama sekali tidak ingin dimanfaatkan untuk kepentingannya pribadi, melainkan ia ingin menanamkan uangnya itu untuk mengembangkan ilmu dan teknologi lebih maju lagi.

Lalu hal sederhana apa yang dilakukan Marck Zukerberg hingga ia bisa mancapai puncak sukses?
Marc mengungkapkan bahwa selama hidupnya ia tidak pernah berfokus pada hasil akhir, melainkan ia hanya berkonsentrasi pada proses menuju sukses; ia terus belajar, mengembangkan kemampuan, terus eksplorasi ilmu dan terus saja mendalami keahliannya. Ia tidak terlalu terpengaruh pada pergaulan, barang mewah, kesenangan dan sebagainya, yang dipedulikannya adalah ilmu dan pengetahuan. Ia hanya tertarik pada ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Dasar pemikiran mementingkan dan menghargai proses belajar ini yang mengantarkan pada puncak kesuksesan. Walau berkali-kali gagal, tetapi kegagalannya itu yang mendorongnya menuju puncak.

Nah gaya hidup seperti inilah yang harusnya ditiru anak milenials saat ini jika mereka ingin berhasil dan sukses di masa depan, utamakan belajar daripada tergoda hasil akhir. Gaya hidup sederhana dan cermat yang dibutuhkan untuk membangun generasi pintar dan mumpuni dimasa depan. Pandai mengatur kehidupan termasuk didalamnya mengatur kemampuan dan keinginan untuk mengembangkan kemampuan dalam dirinya lebih besar dan lebih maju lagi dalam berpikir dan berinovasi. Kecerdasan itu yang dihargai orang dibanding kemewahan gaya dan penampilan semata, kecerdasan itu yang menjadikan orang sangat dihargai dan dihormati.

Kamis, 10 Agustus 2017

INI BARU BETUL, ERDOGAN SIAPKAN GENERASI FAHAM AGAMA DAN HARAPAN UMAT

Yang disiapkan pemimpin islam skala dunia ini bukan bom atom, rudal balistik, atau nuklir, yang disiapkan Erdogan untuk menghadapi musuh-musuh islam di akhir jaman nanti adalah para penegak agama Allah swt. Para pengamal Al Quran, Hadist dan Sunnah yang akan berada di barisan paling depan menjaga akidah umat dan mengawal agama Allah swt, inilah yang betul. Bukan hal sebaliknya yang terjadi di negeri ini, para pengamal agama dihalangi berdakwah dan berjalan mengajak orang menuju rumah Allah swt. Berikut cuplikan artikelnya..

dakwatuna.com Istanbul. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, dirinya bertekad akan mencetak generasi yang mengenal agamanya, budaya dan sejarah bangsanya. “Mereka akan menjadi harapan bagi umat Islam dan semua yang terzalimi,” tegasnya, seperti dikutip lama elshaab.org.
Pernyataan ini disampaikan Erdogan usai shalat Jumat beberapa hari lalu di masjid Yildiz Hamidia, Istanbul.

Ia kemudian menambahkan, “Tugas untuk membentuk generasi mendatang tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, tapi juga menjadi tugas bersama yang membutuhkan kesungguhan dari para orang tua.”
Dalam kesempatan itu Erdogan juga menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada pihak-pihak yang turut membantu renovasi masjid Yildiz Hamidia. Masjid ini sendiri baru saja selesai dari proses renovasi. (msy/dakwatuna)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2017/08/08/88226/erdogan-siapkan-generasi-yang-paham-agama-dan-menjadi-harapan-umat/#ixzz4pGMPRYQH
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

TRUMP; 6 BULAN JABAT CIPTAKAN 1 JUTA LAP.KERJA, KALAU 3 TAHUN?

Presiden terpilih Amerika Donald Trump, walaupun diawal mendapatkan banyak penolakan dari warganya, tetapi ekonomi tumbuh pesat, puncaknya tercipta 1 juta lapangan kerja yang bisa diserap diberbagai bidang. Trump yang terkenal kontroversi dalam berbagai ucapannya memiliki prestasi cukup baik dalam hal memberi keyakinan publik bahwa ia bisa meyakinan para investor, konglomerat  pendukungnya untuk menanamkan modalnya dan menciptakan lapangan kerja bagi warganya. Berbanding terbalik dengan yang terjadi di negara ini, walau diawal Jokowi sudah menjanjikan akan menciptakan 10 juta lapangan kerja, 3 tahun berlalu tanpa terasa angka yang dijanjikan itu justru berbanding terbalik dan menunjukkan trend tingkat pengangguran yang semakin tinggi dibanding jumlah serapan lapangan kerja. Hitungan sederhananya gini, klo 6 bulan 1 juta, nah kalo 3 tahun jabat harusnya berapa lapangan kerja ya? Silahkan hitung sendiri, dan berikut cuplikan artikelnya...

NEW YORK, KOMPAS.com - Perekonomian AS menambah 209.000 lapangan kerja baru pada bulan Juli 2017. Angka tersebut dipandang kuat dan melampaui perkiraan para ekonom.

Mengutip CNN Money, Senin (7/8/2017), angka pengangguran di AS juga turun ke 4,3 persen atau mencapai ke titik terendah dalam 16 tahun. Pasca-resesi Besar tahun 2009 silam, angka pengangguran AS mencapai 10 persen.

"Ekonomi berjalan dengan cukup baik," ujar Cathy Barrera, kepala penasihat ekonomi di situs lowongan pekerjaan ZipRecruiter.

AS telah menambah 1,07 juta lapangan pekerjaan baru selama enam bulan kepemimpinan Presiden Donald Trump. Tentu saja, Trump tidak sepenuhnya sosok di balik serapan tenaga kerja yang solid tersebut.

Sektor restoran dan bar menambah 53.000 tenaga kerja baru, sementara sektor layanan kesehatan menambah 39.000 tenaga kerja baru. Perusahaan-perusahaan manufaktur tercatat menambah 16.000 tenaga kerja baru.

Banyak ekonom berpendapat bahwa AS mendekati kondisi serapan tenaga kerja penuh. Artinya, ke depan angka pengangguran tidak akan turun secara signifikan. Pasar tenaga kerja terus menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi AS.

Juli 2017 adalah bulan ke-82 secara berturut-turut pertumbuhan serapan tenaga kerja. Namun, pertumbuhan upah masih cenderung melambat, yakni hanya 2,5 persen pada bulan Juli 2017 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bank sentral AS Federal Reserve memperkirakan pertumbuhan upah dapat mencapai 3,5 persen.

"Pertanyaan masih timbul terkait apakah kita akan melihat pertumbuhan upah," ujar Chris Gaffney, presiden Everbank World Markets.

Rabu, 09 Agustus 2017

KORAN MALAYSIA: PERPU 2/2017, SEBUT JOKOWI DIKTATOR

Apa kata dunia internasional mengenai keadaan Indonesia saat ini, terutama negara serumpun dan seagama seperti Malaysia. Mereka melihat ada hal yang tidak masuk akal terjadi di negeri ini, sebuah kenyataan pahit yang menyinggung rasa kesamaan beragama tercoreng oleh terbitnya perpu yang mengatur kebebasan bersyerikat dan berkumpul hanya karena perbedaan pandangan dan ideologi bangsa. Kenapa dianggap mengkhawatirkan, karena ini akan mengobarkan semangat yang sama di daerah jiran nantinya. Seperti apa bunyi kekhawatiran mereka, berikut ini kami lampirkan tulisan surat kabar yang beredar di sana.

JAKARTA 13 Julai - Pelbagai pihak termasuk Pertubuhan Hak Asasi Ma­nu­sia (HRW) negara ini mengecam keputusan kerajaan Indonesia mengharamkan pertubuhan yang tidak menyokong ideologinya dan menyifatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai diktator.

Pertubuhan Hizbut Tahrir (HTI) yang menyokong penubuhan negara Islam di Indonesia dan ‘bersih’ daripada sebarang kes keganasan, memaklumkan akan mencabar keputusan itu di mahkamah.

“Kami akan mengkaji undang-undang ini dan merancang strategi baharu agar boleh meneruskan aktiviti,” kata jurucakap HTI, Ismail Yusanto kepada portal ABC.

Pertubuhan itu yang diiktiraf oleh kerajaan Australia turut mengecam Jokowi kerana menyenaraikan pertubuhan tersebut sebagai radikal.

“Kami adalah Islam sejati. Jokowi kini telah berubah menjadi presiden diktator,” katanya.

Semalam kerajaan Indonesia mengumumkan ordinan Presi­den baharu yang menyasarkan pertubuhan Islam terutama yang melancarkan bantahan besar-besaran terhadap bekas Gabenor Jakarta, Busuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenali sebagai Ahok.

Selain HTI, Barisan Pertahanan Islam (FPI) yang merupakan antara pertubuhan mendesak Ahok dipenjarakan, adalah pertubuhan yang diharamkan.

Pakar analisis dan kumpulan hak asasi manusia bimbang dengan pelaksanaan ordinan itu yang masih belum dikemukakan di Parlimen Indonesia ataupun dicabar di mahkamah.

“Peraturan Pemerintah Peng­ganti Undang-Undang (Perppu) ini merupakan ancaman terhadap demokrasi dan perlembagaan,” kata pakar undang-undang, Irman Sidin.

Katanya, ini merupakan kali pertama kerajaan di bawah pemerintahan Jokowi menguat­kuasakan undang-undang itu sejak kejatuhan bekas diktator Suharto.

Bekas Menteri Kehakiman, Yusril Ihza Mahendra berkata, pelaksanaan Perppu merupakan langkah ke belakang bagi demokrasi di Indonesia.

Penyelidik HRW, Andreas Harsono berkata, kerajaan hanya boleh mengambil tindakan undang-undang terhadap kumpulan yang disyaki melakukan pencabulan undang-undang.

“Mengharamkan sebarang per­tubuhan hanya kerana ideo­logi adalah tindakan drakonian yang menyekat kebebasan pertubuhan dan hak bersuara yang telah diperjuangkan oleh rakyat Indonesia sejak peme­rintahan diktator Suharto,” katanya.

Beberapa pihak lain pula menyifatkan penguatkuasaan undang-undang sebagai strategi menjelang pilihan raya yang dijangka pada 2019.

Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/presiden-jokowi-disifatkan-diktator-1.502559#ixzz4p9ec6wYD 
© Utusan Melayu (M) Bhd

Selasa, 08 Agustus 2017

HUTANG PIUTANG: SEBAB BUNUH DIRI ERA KEKINIAN

Belakangan ini sering kali terdengar berita bunuh diri dikalangan anak muda, generasi muda yang baru menapaki hidup berumah tangga, mereka merasa tidak tahan lagi dengan tekanan dan masalah hidup yang menderanya, kesulitan ekonomi yang terus menerus tidak ada ujungnya. Bahkan beberapa diantara mereka beralasan bahwa bunuh diri dilakukan dalam rangka menghindari hutang piutang. Dengan Bunuh diri, menganggap segala urusan hutang piutang di dunia bisa diselesaikan, padahal tidak, karena kelak di akhirat tetap harus dipertanggung jawabkan. Bunuh diri karena menghindari hutang adalah bentuk pengalihan saja, di tangguhkan sementara hingga datang hari akhir. Jadi sebenarnya hutang itu tidak hilang, akan tetap ada hingga waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Belum lagi dosa melakukan aksi bunuh diri, itupun harus dipertanggung jawabkan, lalu apa yang melatar belakangi mereka nekat melakukan bunuh diri?

Dalam keadaan serba sulit dan sempit seperti ini, nampaknya penyelesaian jalan keluar dengan mengakhiri hidup sendiri menjadi cara paling cepat mengelesaikan masalah. Bunuh diri akan menghentikan semua kesakitan dan penderitaan tekanan masalah hidup.

Lalu kenapa masalah hutang piutang bisa mengakibatkan orang bunuh diri? Sederhananya, hutang bisa diselesaikan dengan dibayar, tetapi kenapa harus mengakhiri hidup. Sedemikian lemahnya iman mereka sehingga harus menyerah pada nasib dan mengatakan hidup ini tidak adil dan tidak memberikan mereka banyak pilihan, kecuali bunuh diri?

Orang yang terlilit hutang piutang, dalam jangka waktu yang lama tidak kunjung diselesaikan, semakin lama semakin menumpuk akibat bunga berjalan. Waktu yang terus bergulir tidak bisa menghentikan hutang, semakin lama semakin terpojok. Orang yang menjalani hidup dililit hutang, meskipun mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikannya, dengan berbagai cara dan upaya, tetapi nyatanya hutang itu tidak kunjung selesai. Karena mereka juga harus tetap menjalani kehidupan sehari-harinya yang membutuhkan biaya, maka lama-kelamaan orang itu akan berada pada titik puncak keputusasaannya terhadap keadaan. Mereka berada dipuncaknya segala usaha dan sabar menanggung beban.

Dalam kondisi seperti ini, pikiran putus akan datang menghampiri, ketika mereka melihat ke depan jalan semakin sempit dan tanpa ujung. Semakin tidak ada cahaya yang dapat menerangi jalan mereka yang sudah jauh tersesat. Terjadi pergulatan bathin dalam diri, tarik menarik antara nalar dan logika, yang satu menolak yang satu menerima. Jika logika yang menang, dasar analisa yang digunakan perhitungan matematika umum, maka keputusan akhir akan segera menunjuk pada pilihan mengakhiri hidup.

Orang yang ingin bunuh diri biasanya memikirkan dengan seksama rencana tersebut, bagaimana dampak bagi orang-orang yang ditinggalkan, bagaimana ini dan itu. Itulah sebabnya kadang ada diantara mereka yang meninggalkan pesan di secarik kertas dan mengungkapkan semua alasannya. Namun akibat sudah keruhnya hati dan berkaratnya iman, berbagai pertimbangan itu kalah debat dan argumen, sehingga hasil akhir mereka memutuskan bunuh diri. Dan nampaknya awan gelap telah menyelimuti dirinya, ditambah lagi adanya bisikan halus yang menyertai mereka. Karena biasanya, pada kondisi orang yang sudah putus asa dari rahmat Allah swt, orang yang sudah menyerah pada keadaan, tidak mau berusaha meminta pertolongan Allah swt maka tanpa sadar hawa negatif akan masuk ke dalam dirinya dan membisikkan hal-hal indah tentang bunuh diri, seperti; selesainya masalah hutang, dan tidak ada lagi orang yang datang mengancam.

Bisikan ini terus saja mengikuti langkahnya dan merangkai satu demi satu teknik/cara pelaksanaan bunuh diri yang paling aman, terus saja sampai ia benar-benar melangkahkan kaki ke tiang gantungan. Iblis terus mengiringi langkahnya dengan penuh kesabaran dan ketekunan, inilah moment paling berharga bagi iblis untuk menjerat manusia dalam keputusasaan dari kasih sayang ALlah swt. Iblis sangat menanti-nanti moment ini pada diri siapapun yang berputus asa dari Pertolongan ALlah swt, siapapun yang tidak bisa mengalahkan egonya untuk berserah dan berpasrah diri kepada Allah swt, maka ialah yang akan menjadi korban kelicikan syetan dan iblis laknatullah.

Inilah salah satu penyebab kenapa orang akhirnya memutuskan bunuh diri, karena mereka tidak percaya dan yakin dengan kuasa Allah swt. Mereka sudah terlalu dari kalimat "Innalillahi wainnalillahi rojiuunn, semuanya datang dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah swt. Orang yang akhirnya memilih bunuh diri disebabkan karena mereka sudah berusaha tetapi mereka belum melaksanakan apa yang ditunjukkan kepada mereka yaitu sabar dan shalat. KArena dalam shalatlah ada pertolongan Allah swt, sementara orang yang tidak mau shalat akan diampiri syetan. Itulah sebabnya akhirnya mereka memilih putus asa dan memandang baik apa yang disarankan dan dibisikkan iblis ke telinganya.

Maka dari itu teman, jika sedang mengalami masalah hutang piutang dan berbagai permasalahan hidup, segeralah dirikan shalat, lakukan berbagai ibadah dan perbanyak istigfar. Allah swt pasti akan menolong dengan bagaimana cara Ia akan menolong hamba-Nya yang berserah diri dan berbaik sangka kepada-Nya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Hanya Allah swt yang maha mengetahui, jangan lepaskan dirimu dari rahmat-Nya, karena sesungguhnya pertolongan ALlah swt itu dekat.

Senin, 07 Agustus 2017

EKONOMI MAKIN SULIT, MANA YG DIKEJAR, DUNIA ATAU AKHIRAT?

Kedepan kondisi ekonomi makin sulit, apa yang harus dilakukan? Banyak yang memilih membuka usaha dan berjualan berbagai bahan kebutuhan sehari-hari, ada juga yang berjualan di rumah secara online. Sudah benarkah pilihan ini? Padahal, jika membuka usaha di tengah kondisi krisis seperti ini resikonya pun cukup besar, dimana kemungkinan modal tidak bisa kembali, karena lemahnya daya beli konsumen dan persaingan pasar sangat ketat. Lalu apa yang seharusnya dilakukan di masa sulit dan serba sempit seperti ini? Adakah jalan keluarnya yang tidak akan membawa kita ke jurang kehancuran?

Di dalam keadaan sulit, keyakinan setiap orang ditantang dan dipertaruhkan, mampukah ia bertahan dalam keadaan serba tidak menentu dan situasi tidak pasti. Dalam keadaan sulit, tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi ke depan, dan tidak ada yang bisa memberikan petunjuk seperti apa kondisi ekonomi nanti. Satu-satunya yang pasti disini adalah ketidakpastian itu sendiri, dan semakin banyak orang yang mencari tahu dengan berbagai usaha dan upayanya masing-masing, mereka makin dibuat kalut dan guncang ketika semua keinginannya tidak sesuai harapan. Dalam hal ini islam menawarkan solusi mudah, pilihlah jalan menuju akhirat. Apa itu jalan akhirat? itu adalah perbanyak ibadah, berdzikir, shalawat, tasbih dan tahmid. Kenapa beribadah harus diperbanyak di masa-masa sulit?

Karena ketika seseorang berdzikir dan berdoa dengan lisan dan hati, seketika pikiran dan perasaan kita akan menebarkan vibrasi positif ke alam semesta sehingga alam semestapun yang sudah dilengkapi sistem otomatis untuk menangkap getaran vibrasi akan merespon keinginan setiap insan serta mendorong semua keinginan tersebut ke luar angkasa yaitu ke lapisan langit Arsy-Nya.

Sebagaimana kita semua tahu, bahwa seluruh penghuni alam semesta ini senantiasa bertasbih memuji kebesaran ALlah swt. Tanaman, hewan, gunung, laut dan sebagainya, semua mahluk itu diciptakan untuk menggemakan asma Allah swt tanpa henti. Lalu kapan manusia sendiri punya waktu untuk berdzikir sebagaimana yang dilakukan mahluk lain? Yaitu adalah ketika keadaan mereka sedang lapang dan sempit. Orang yang dalam keadaan sempit akan menjadi khusuk jika diarahkan untuk berdzikir kepada ALlah swt, beda dengan kondisi pada saat mereka lapang. Kondisi sempit makin mampermudah komunikasi hamba kepada Sang Pencipta. Berdoa, berdzikir dan bertasbih dalam keadaan sempit yang khusuk memudahkan terkabulnya doa, kekhusukan ini yang akan memudahkan datangnya rezeki yang tersembunyi dan terhalangi hawa negatif di alam semesta ini.

Lalu apa yang terjadi? mengapa dunia ini kini menjadi semakin sempit, rapuh dan ringkih? orang-orang diatasnya mudah berputus asa? itu karena mereka tidak mau berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt.

Ketika jumlah manusia semakin banyak, sementara hutan-hutan semakin tipis, tumbuhan semakin hilang, hewan-hewan diburu dan dijadikan ternak, mereka tidak melanjutkan tugas para penghuni bumi sebelumnya yaitu bertasbih dan menggemakan asma ALlah swt, maka dunia semakin tidak punya kekuatannya, tidak ada keseimbangan. Semakin hilang kemampuan otomatis menangkap vibrasi alam semesta, manusia yang semakin banyak tidak bisa menjaga kestabilan ekosistem mengakibatkan dunia ini pincang . Yang banyak bertebaran di alam semesta ini adalah vibrasi negatif dan menghalangi turunnya rahmat Allah swt.

Manusia yang kini jumlahnya sudah hampir menutupi seluruh lapisan bumi ini, harusnya mampu menjaga kestabilan kehidupan ini dengan cara melanjutkan tugas para pendahulunya yaitu berdzikir dan bertasbih menggemakan Asma Allah swt, karena manusia adalah mahluk yang dibekali kecerdasan dan akal. Manusia harusnya bisa menjadi pelopor dan pemimpin yang mampu berbuat lebih banyak dalam hal upaya menggemakan asma ALlah swt jika dibanding mahluk lain.

Dan benar adanya, bahwa kelak akhir jaman, ketika seluruh mahluk seperti tanaman dan tumbuhan sudah semakin langka, maka satu-satunya jalan agar manusia bisa tetap bertahan hidup adalah mereka harus bisa menahan lapar dengan cara memakan makanan para penghuni syurga yaitu berdzikir dan bertasbih kepada Allah swt. Tidak ada jalan lain, karena hanya itulah satu-satunya makanan yang tersisa di akhir jaman. Anda masih tidak percaya, lihatlah suudara kita yang ada di wilayah konflik, tidak ada yang bisa mereka makan, selain lidahnya selalu basah dengan lafadz dzikir dan tasbih, dan mereka hingga kini masih tetap hidup dan terus berjuang hingga ALlah swt sendiri yang mencabut nyawa mereka.

INILAH YANG HARUS KITA KEJAR
Ilmu Tolak miskin, ialah dengan menjadikan akhirat sebagai santapan tujuan utama, bila akhirat sebagai tujuan kita, maka dunia akan menunduk pada kita dan dunia akan menghampiri orang yang mengutamakan urusan proyek akhirat. Dunia akan berlari mengejar kita yang sibuk dengan urusan akhirat, dunia akan berupaya sekuat tenaga memalingkan perhatian kita dari kesenangan kita mengejar akhirat.

inilah pesan Nabi agar dunia tunduk pada kita manusia:

وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ

وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)

NIAT beramal untuk akhirat maka akan mendapat dunia

Niat tidak ikhlas akan mendatangkan kemiskinan dunia dan kesusahan di akhirat

Luruskan niat karena Allah….. aamiin..


Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki di malam gelap-gulita menuju masjid
bahwa bagi mereka cahaya yang terang-benderang di hari kiamat.

(HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

Inilah shalawat yang diijazahkan oleh KH A Mustofa Bisri Rembang, KH. ABDUL KHANAN MAKSUM kwagean pare Kediri, KH. MAHRUS A’LY LIRBOYO, KH. ABDUL LATIF MUHAMMAD, KH. Abdul Syukur pengasuh PONPES AL ISLAH DLOPO, dan banyak kyai lain.

Baca sholawat:
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد
SHOLLALLOHU A’LA MUHAMMAD

Dibaca dengan bilangan 1000 x / 3333 x/7.000 x/10.000 x tiap hari, atau sebanyak kita mampu. Bahkan ada yang mengijazahkan sampai15.000x dalam satu majlis. Yang penting untuk amalan tiap hari adalah istiqomahnya.

بسم الله الرحمن الرحيم
الّلهُمَّ اَعْطِنِي ثَوَابَ صَلَّى اللهُ عَلَى محمد أَنْ تَرْزُقَنِي شَيْئًا أَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى الطّاعَةِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الِعزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَي الْمُرْسَلِيْنَ وَالحمْدُ لله ربِّ العَالميْن

“Bismillaahirrohmaanirrohiim Alloohumma a’thinii tsawaaba SHOLLALLOOHU ‘ALAA MUHAMMAD an tarzuqonii syai-an asta ‘iinu bihi ‘alath-thoo ‘ah subhaana robbika robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun wasalaamun ‘alal mursaliin walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin”

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah datangkanlah padaku pahala SHOLLALLOOHU ‘ALAA MUHAMMAD berilah rezeqi padaku, sesuatu yang dapat menolongku untuk ta’at.

Maha Suci Tuhanmu, Tuhan yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan dan salam sejahtera untuk para Rasul dan segala puji kepada Allah Tuhan semesta alam.”

Selamatkan diri kita dari kemiskinan dengan cara mengejar amalan akhirat, insya Allah dunia selamat akhiratpun selamat.

Label